METODE ETHNOGRAFI DALAM PENGKAYAAN METODE-METODE PENELITIAN SOSIAL

Writen by Nanda Wirabaskara

Salah satu kelemahan paradigma pembangunan ala Orde Baru adalah apa yang pada akhirnya bermuara pada model pembangunan yang biasa disebut “top down”. Penyeragaman yang mengabaikan budaya lokal dan akar tradisi serta tuntutan kebutuhan setiap kelompok masyarakat adalah sesuatu yang secara komprehensif menyertainya. Produk kebijakan dalam skala masal dan waktu yang jauh lebih singkat—“praktis”—yang menjadi pertimbangan mengakibatkan berdirinya sebuah bangunan yang pondasinya lemah sehingga ketika ada sedikit goncangan bisa mengakibatkan hancurnya apa yang selama 32 tahun ini dibangun dan dibanggakan. Tiba-tiba saja kita sekarang ini berada dalam keadaan “tidak mempunyai sesuatu yang bisa dibanggakan”.

Paradigma pembangunan ini tampaknya sudah mendarah daging pada sebagian yang sangat besar dari bangsa kita, sehingga ketika kemudian muncul dan berkembang wacana metode pendekatan yang baru, apa yang dihasilkan secara paradigmatif tidak jauh berbeda dari metode pembangunan tersebut. Program atau kebijakan yang dilakukan tetap saja ‘top down’, hanya saja yang berada pada posisi top bukan lagi hanya pemerintah, melainkan LSM, Lembaga Penelitian ataupun Akademisi turut meramaikannya. Mereka menyusun suatu program dengan keyakinan dan optimisme karena mereka bukan pihak yang akan menjalaninya. Paradigma proyek yang seringkali mengabaikan budaya masyarakat mengakibatkan hasil yang tetap saja tidak ramah budaya. Lepas dari akar tradisi masyarakat di mana suatu program dilaksanakan sehingga rentan terhadap munculnya pelanggaran-pelanggaran karena tidak adanya saling pemahaman.

Untuk menutupi kekurangan tersebut Metode Etnografi sebenarnya bisa dilakukan untuk memperkaya metode-metode penelitian yang sudah ada. Hanya saja pada masa sekarang ini, tidak seperti metode-metode yang lain seperti metode penelitian survei, metode-metode simulasi, metode penelitian sejarah, dan metode-metode penelitian yang lain, metode etnografi ini belum populer pada masyarakat kita.

Untuk bisa membuat suatu analisis kebijakan yang tidak terlepas dari akar tradisi dan sejarah masyarakat, pemahaman atas kondisi budaya masyarakat tersebut mutlak diperlukan. Dengan ini suatu program atau kebijakan dapat dibangun di atas pondasi yang kuat, tidak terlepas dari ‘perjalanan sejarah’ secara esensial—bukannya membangun sesuatu yang baru diluar ‘rel’ perjalanan budaya masyarakat dan, apa lagi, menghancurkannya.

Penelitian etnografi adalah suatu metode kualitatif dalam pemetaan budaya masyarakat dengan cara terlibat langsung dalam kegiatan masyarakat sambil melakukan pengamatan dan mendengarkan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa etnografi adalah sebuah proses untuk memahami. Wawancara dapat dilakukan untuk membantu memahami suatu gejala (dengan disertai check and cross check untuk mendapatkan data yang akurat) sehingga konteks yang tidak bisa dilihat dan didengar langsung dari gejala yang telah terjadi dapat diketahui. Untuk itu seorang etnogafer dituntut untuk memiliki kepekaan terhadap others dan dinamika sosialnya sehingga mampu merekontruksi kebudayaan suatu masyarakat. Metode ini juga mempertimbangkan subyektivitas peneliti dan pengaruh kehadirannya selama proses di lapangan.

Memahami konteks adalah sesuatu yang penting dalam metode etnografi ini, karena tanpa mengetahui konteksnya, gejala-gejala, peristiwa-peristiwa, dan percakapan-percakapan yang terjadi tidak berarti apa-apa. Sebagaimana dalam ilmu bahasa, sebuah kata secara gramatikal mempunyai arti tergantung dari konteks apa kata tersebut muncul. Sebuah kata, atau bahkan kalimat yang sama bisa mempunyai makna yang sama sekali berbeda ketika konteksnya berbeda.

Dalam sebuah proses penelitian etnografi, setiap gejala dan konteksnya penting untuk direkam dengan baik, sehingga secara detail dan menyeluruh akan bisa dideskripsikan hubungan-hubungan interrelasional yang kompleks dari berbagai gejala yang ada dan mempunyai keragaman konteks tersebut. Dengan demikian sebuah peta kondisi budaya suatu masyarakat bisa direkontruksi sehingga suatu program atau kebijakan dapat dibangun dengan memperhatikan adanya pemahaman intersubyektif dan dialektik di dalamnya.

Advertisements

~ by roromendoet on February 10, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: