Balada No Smoking Area

(Orang Jawa mengais-ngais ketidak berbenturan budaya di Manila)

writen by Nanda Wirabaskara

Di Indonesia pada umumnya, orang merokok di sembarang tempat dan sembarang waktu. Di jalan-jalan, di warung, di kampus, di kereta, di bus, bahkan di kantin sekolah bisa dilihat orang merokok. Di mana tempat orang dilarang merokok, di situ dipasang larangan ‘dilarang merokok’. Pun larangan ini kadang dilanggar. Dalam pertemuan di dalam ruangan ber-AC para perokok berkumpul duduk di dekat pintu yang dibuka. Di rumah sakit para perokok bercengkrama di sudut-sudut koridor.

Pertama kali tiba di Manila aku sulit sekali melihat orang merokok. Aku langsung menarik garis merah dari Manila ke Jakarta yang sudah menjadi kota dilarang merokok. Pertama kali aku melihat orang merokok adalah ketika membeli makan siang di Mc D. Para perokok itu adalah pelanggan Mc D yang mengambil kursi di luar rumah makan, yang memang disediakan berjajar di pinggir trotoar dengan asbak-asbak di atas meja. Para perokok itu sepertinya lebih banyak perempuan.

Garis merah ke dua dengan terbata-bata terbentang ke dunia Barat. Seorang teman dari Australia pernah bilang bahwa di Barat orang yang merokok kebanyakan perempuan. Para laki-laki lebih banyak yang meminum alkohol. Dua garis merah itu segera terjalin saling memperkuat. Di Philippine ini sepertinya tidak ada bekas-bekas peradaban besar masa lalunya. Tidak ada tanda-tanda akan adanya sesuatu yang kuat tertanam dalam naluri orang-orangnya. Tidak seperti di Indonesia, Thailand, India, China dan Mesir yang banyak bisa dijumpai jejak sejarah peradaban masa lalunya. Di Philippine ini juga orang sangat bangga dengan icon-icon budaya Barat, khususnya Amerika. Sebuah baliho besar American Idol bahkan terpampang di sebuah sudut kota Manila. Dan ketika mendengar tentang Indonesia anak-anak highschool di Manila akan bertanya, “di Indonesia ada Mc Do gak?” “Di Indonesia ada Jollibee gak?” sebagian yang sangat besar dari resto dan kantin-kantin di Manila memang memasang label makanan luar negeri. Chinese food, Indian food, Japanese food, Italian food, serta semua brand junk food dan coffee Amerika. Salah satu kebanggaan mereka atas kemajuan Philippine (kota Manila) adalah pemutaran perdana film Hollywood di Amerika, pada hari yang sama film itu juga diputar di Philippine.

Berkaca pada ketertiban orang Philippine untuk tidak merokok sembarang tempat, tidak adakah sisa-sisa ketimuran orang Philippine? Dengan meraba-raba perlahan-lahan aku mulai mengerti bahwa ternyata masih ada sisa-sisa mental ketimuran orang Philippine.

Di beberapa sudut taman ataupun kampus terpampang tanda non smoking area. Dengan satpam di Manila yang bertebaran bak ketombe di kepala rastawan, aku mulai melihat celah akan adanya sisa-sisa ketimuran mereka. Kebanyakan satpam-satpam itu membawa senjata api, dari laras pendek sampai laras panjang. Hanya 2-3 satpam yang aku lihat kosong tempat senjata api di ikat pinggangnya. Seorang satpam di counter Smart Broadband di Mall Cubao dan beberapa satpam perempuan. Ya, orang Manila sebenarnya bukan orang yang tertib. Mereka hanya takut satpam bersenjata, karena kadang mereka melanggar aturan juga.

“Matilah para perokok!” Hal itu jadi terlintas dalam kepalaku yang perokok. Meski bukan perokok berat tapi di Manila aku banyak menahan keinginan untuk merokok. Dengan paspor yang masih dipegang oleh agen yang mengurus perpanjangan visa, aku tidak boleh tertangkap melanggar larangan. Tidak boleh kena denda dan tidak boleh berurusan dengan aparat sedemikian rupa hingga ditanyai paspor.

“Non smoking area”

Ketika harus membuang waktu 2 jam sendirian di sebuah mall di Manila, membakar tembakau di mulutku sepertinya menjadi imaginasi yang markotop. Bergegas aku ke luar menuju ke arah taman, di mana etika ketimuran akan mengharuskan beberapa perokok untuk menyulut rokoknya. Di pintu ke luar terlihat tanda non smoking area terpampang berdampingan dengan sebuah asbak stainless steel. Tanda itu memberikan signal padaku untuk mengambil jarak dengan wilayah mall yang bersatpams. Segera aku duduk di taman, tidak terlalu jauh dari teras mall di mana banyak orang duduk-duduk bercengkerama. Mulailah aku mengamati!

Terlihat seorang bapak-bapak yang merokok di dekat asbak stainless itu. Klepas-klepus sambil menghadap tanda larangan merokok. Seorang satpam datang mendekatinya. Dari gerak tubuh keduanya, mereka saling berbicara. Bapak-bapak itu berbicara sambil tetap klepas-klepus dan menuding-nuding asbak stainless yang ada di depannya. Kalau di lihat dari kulit muka dan rambut mereka, bapak-bapak itu jelas usianya jauh lebih tua. Satpam itu terlihat tidak banyak bicara dan hanya berdiri diam saja di dekat bapak-bapak itu sampai bapak-bapak itu mencecek rokoknya dan pergi melenggang.

Begitukah kalau mau merokok di sekitar sini? Klepas-klepus sambil berkiblat pada tanda larangan? Begitu pikirku melihat kejadian tadi. Tentu saja aku belum yakin. Aku masih menunggu kasus ke dua. Beberapa saat kemudian ada beberapa pemuda yang datang dan duduk di teras mall sambil merokok. Seorang satpam yang berpatroli segera bergegas menghampiri mereka dan berbicara sambil menuding-nuding ke luar, ke arah taman. Para perokok itu segera melenggang ke arah taman. Ketika peristiwa itu terjadi 2-3 kali aku putuskan untuk pindah nongkrong ke arah mana para perokok tadi melenggang. Di tengah taman itu aku melihat beberapa orang klepas-klepus menghisap rokoknya. Aku seperti melihat oase dengan kolam nikotin. Di tengah taman yang megah orang klepas-klepus dan bercengkerama. Di tengah taman ini tentulah tidak akan dipatroli oleh satpam-satpam mall dan tidak terlihat dari teras mall karena banyak tanaman bambu-bambuan yang merintangi pandangan. Dengan was-was aku mulai mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Belum hilang was-wasku dihembus nikotin ketika tiba-tiba saja muncul satpam, dan dia berbicara ke arahku. “Walang walang walang…,” bicara satpam itu sambil menuding-nuding 45 derajat ke atas. Aku tidak paham apa katanya karena omongannya terdengar seperti omongan Deni Manusia Ikan. Satu yang aku tahu pasti dari intonasi dan tudingan tangannya bahwa tidak boleh merokok di sini! Dugaanku bahwa kalau mau merokok di sini harus seperti bapa-bapak tadi batal demi hukum. Ternyata orang-orang merokok di sini dengan mengabaikan larangan. Mereka adalah orang-orang yang naluri ketimurannya masih tersisa disulut nikotin. Biasanya disulut kemiskinan.

“Menyulut naluri ketimuran”

Segera saja aku bergeser ke arah mana tangannya tadi condong menunjuk. Sedikit serong dari arah tangan satpam tadi menunjuk, aku memutuskan untuk bergabung dengan beberapa natif tagalong yang bercengkerama sambil merokok. Tetap saja satpam itu mengikuti dan bicara dengan intonasi yang sama, “walang walang walang…” dan para perokok yang bercengkerama tadi bubar. Bergegas aku pergi ke arah horizontal dari pada vertikal tangan satpam tadi. Ternyata di situ ada caffee Sutarbak yang menyediakan surga bagi para perokok.

Perlahan-lahan aku mulai mengenali sudut-sudut di mana terpampang tanda ‘smoking area’, berkumpul dengan budak-budak tembakau yang tertib aturan. By the way, orang Philippine memang pada dasarnya tidak punya tradisi merokok. Bahkan di Malaybalay yang merupakan daerah pegunungan di wilayah utara Pulau Mindanao yang dingin tidak ada orang yang menjual tembakau untuk rokok lintingan. Di Philippine hanya bisa dijumpai 3-4 merk rokok dan semuanya adalah rokok putih.

“Smoking area”

Advertisements

~ by roromendoet on February 19, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: