Ambil Nafas, Tahan!

Philippines-Indonesia & Aku

By Any Marsiyanti 2010

Rasanya seperti mengambil nafas dalam-dalam

kemudian menahannya dengan sekuat tenaga

Di negeri asing, tidak paham bahasanya, tidak paham etikanya, tidak pahan aturan, norma, dan tradisinya, tidak paham peta perpolitikannya.

Bukan hanya di negeri yang asing ini aku merasakan keasingan yang menarik urat-urat syarafku. Di negeriku sendiri pun aku tidak kalah merasa asing dan lagi-lagi, urat-urat syarafku bermunculan karena tegang. Mengapa? Itulah pertanyaan besarnya.

Mengapa bisa demikian?

Hampir keseluruhan hidupku aku menghirup udara dan menginjak tanah Indonesia. Namun setiap langkah terasa berat. Setiap tarikan nafas terasa menyesakkan. Seperti ada sesuatu yang buruk akan selalu aku hadapi. Mengapa bisa demikian?

Mengapa aku seperti merasa tidak memiliki tanah air Indonesia?

Semua hanya terasa ada karena di situlah aku berada, tapi tidak berasa nyaman & sreg di hati.

Aku baru bisa mengevaluasi perasaanku yang paling jujur ketika aku berada jauh dari Indonesia. Philippines (atau orang Indonesia menyebutnya Filipina).

Di sinilah aku berada saat ini. Tidak ada kegiatan yang menuntut kerja otakku, tidak juga menuntut kerja fisikku. Mengapa? Sudah satu bulan ini aku bersama suamiku menjadi penduduk tidak tetap kota Manila, ibukota Filipina, karena kami diharuskan menunggu perpanjangan visa peneliti yang prosesnya menjadi sangat panjang karena kami datang bertepatan dengan libur panjang orang Filipina.

Seandainya pun kami datang sebagai wisatawan di Manila, kami tidak akan banyak menemukan hal-hal yang menarik di kota yang sangat padat penduduk ini.  Tidak ada yang istimewa di Manila. Semua bisa aku dapati dengan mudah dan jamak di Jogja. Bahkan lebih menyenangkan Jogja karena masih jarang bangunan mall. Pasar-pasar tradisional di Jogja masih lebih eksotis daripada di sini. Namun, mungkin itu hanya masalah selera saja. Hey… aku menulis ini pun karena masalah selera & perasaan.

Sudah dua Negara di Asia yang membenarkan firasatku akan rasa ketidak-nyamananku. Indonesia & Filipina. Entah karena kemungkinan kedua Negara ini dihuni oleh orang-orang dari latar belakang yang sama (ratusan atau mungkin ribuan tahun lalu), budayanya banyak memiliki kemiripan. Berani taruhan bahwa ini mungkin juga akan terjadi di Negara-negara lain di Asia.

Budaya yang mempunyai kemiripan yang mencolok adalah memanfaatkan yang lemah. Huhhh!!!! Dan ketidak-tahuan medan merupakan salah satu kelemahan favorit para lintah penghisap uang. Gila aja! Bukan hanya supir taksi yang memanfaatkan dengan baik kelemahan ini. Seorang pegawai administrasi sebuah institusi akademik yang seharusnya menjaga reputasi “bisa diandalkan & bisa dipercaya” justru mengambil untung banyak dan menjerumuskan tamu-tamu mancanya. Dan lebih parahnya lagi, institusi yang bersangkutan memang mempunyai reputasi yang sangat bagus atas kualitasnya. Namun ketika berhubungan langsung, banyak yang di kemudian hari mengeluh atau menyesal. Betapa disayangkan.

Budaya yang lain lagi adalah budaya menawar.  Ini merupakan salah satu kebiasaan publik yang tidak pernah bisa aku nikmati. Pilihannya adalah dapat menawar banyak tapi mendapat barang yang tidak fit alias cacat produk atau tidak menawar tapi masih juga mendapat kemungkinan dapat barang yang tidak fit.  Dua-duanya tidak dapat diandalkan.  Setidaknya, tidak ada jaminan uang kembali atau replacement guarantee. Sedihnya, banyak yang justru menikmati ketidak-pastian nasib diri sendiri sebagai konsumen.  Aduh-aduh… bagaimana ini kita para konsumen?

Ada lagi yang sedikit membuat miris hati. Budaya mengemis. Kagak hanyaIndonesia broer… Filipina juga kaya akan pengemis & anak jalanan. Mengemis yang dilembagakan juga ada. Kalo di Indonesia ada (pertama aku lihat di Bogor sekitar 6 tahun yang lalu, sekarang sudah sampai Jogja) orang-orang yang meminta zakat fitrah door to door di bulan puasa, kalau di Filipina, khususnya Manila, ada orang-orang yang meminta sumbangan dengan cara mambacakan Caroline Natal. Awalnya sih Cuma anak-anak yang melakukannya. Terasa lucu dan menggemaskan di hari-hari awal Desember. Namun ternyata mereka muncul tiap hari menjelang malam tiba dan rombongannya bervariasi, kadang bergerombol, kadang bersolo karir alias sendirian. Tiga hari mendekati tgl 25 Desember, mulai muncul ibu-ibu dan bapak-bapak yang melakukan hal serupa. Ini mah udah nggak lucu & menggemaskan lagi. Sedikit menyedihkan karena perasaan terintimidasi oleh keharusan memberi sumbangan jika semua harus diberi. Namun cukup dengan berteriak “TAWAT” dari dalam rumah biasanya mereka akan pergi dengan sendirinya. Trenyuh juga melihat kemiripan pola minta-minta di Filipina & Indonesia.

Kebenaran memang kadang menyakitkan ketika itu bukanlah kebenaran yang dikehendaki. Harus diakui bahwa banyak kebudayaan (atau kebiasaan publik) di dua Negara yang cukup memalukan karena terlihat kasat mata dan tidak memberikan kontribusi kepada kecantikan fisik sebuah Negara.  Namun demikian, yang tidak kasat mata pun seringkali memalukan jika terasai. Politik. Mari kita kaji kecenderungan politik di dua Negara (maksudnya masih tetap Indonesia & Filipina). Korupsi? Still remains. Kolusi? Apalagi yang ini…tetap aja jadi PR besar kita semua. Nepotisme? Jangan Tanya ya, nepotisme di dunia perpolitikan Filipina lebih-lebih kental timbang Indonesia (4 tahun yang lalu lho, kalo sekarang sih tampaknya Indonesia balik lagi ke nepotisme yang memalukan, tapi mereka melakukannya dengan tanpa malu-malu).  Tiga terminology yang sering digabungkan dengan istilah KKN di Indonesia itu pun terasa sekali di Filipina.  Namun demikian, semalu-maluinnya pelaku nepotism di Indonesia lebih parah lagi Filipina karena Negara ini dikuasai oleh beberapa klan keluarga kaya. Kalau ada pertanyaan: Lho di Indonesia juga dikuasai oleh beberapa klan keluarga kayakan?  Yap betul, yang membuat Filipina lebih parah karena di Negara ini kepemilikan senjata diperbolehkan sekali. Jangankan keluarga kaya, satpam toko pun selalu membawa senjata api di sabuknya. Nah, keluarga-keluarga kaya di Filipina biasanya turut berperan dalam politik (baca: berkuasa). Setiap keluarga memiliki pasukan pribadi dengan senjata lengkap. Maksudnya senjata lengkap adalah senjata tempur dari pistol, senjata dengan peluru kaliber besar, sampai pada kepemilikan helicopter tempur dan tank. (Gila nggak tuh!!!).  Ketika suatu daerah, Maguindanao, di pulau Mindanao akan mengadakan pemilihan gubernur, pecahlah tragedi pembantaian massal itu di paruh bulan November 2009.  Sang istri salah satu candidate ikut berpawai, dan kabarnya dia meninggal dengan cara yang sangat mengenaskan (ada yang bilang dia dimutilasi).  Dalam tragedi itu, meninggal sekitar 57 orang (banyak juga jurnalis yang ikut terbunuh karena ikut dalam rombongan itu). Betul-betul orang-orang yang membantai itu terlalu banyak nonton film koboi bikinan Hollywood.  Mereka pikir mereka dapat dengan mudah menghindar dari jeratan hukum setelah membantai begitu bayak orang. Dungu!!! Kejam!!!  Bahkan kepalaku pun pusing ketika teringat foto-foto korban pembantaian yang aku temukan di internet maupun dirilis oleh TV nasional Filipina. Yang lebih mengejutkan adalah reaksi rakyat Filipina secara general, yaitu tidak bereaksi! Yang aku bicarakan di sini adalah reaksi masyarakat kebanyakan. Mereka hanya membicarakannya sepintas lalu. Sedikit sekali yang menuntut pemerintah untuk mengusut tuntas tragedy itu, mereka terutama adalah para jurnalis yang menuntut karena banyak rekan seprofesi mereka menjadi korban.  Tidak ada demonstrasi di jalan-jalan di Manila yang setidaknya menunjukkan rasa prihatin akan kejadian yang di luar batas kemanusiaan itu.  Kok rasa-rasanya tingkat solidaritas sesama warga Negara (setidaknya sesama manusia) tipis sekali.  (Bapakku yang tinggal di kota kecil di Indonesia saja merasa prihatin dan cemas akan kejadian yang dia lihat di TV dengan antenna parabolanya itu). Betul-betul mengherankan. Atau mungkin masyarakat Filipina sudah terbiasa dengan kekerasan? Atau mereka takut? Kalau rasa takut mungkin sekali mengingat keluarga yang diduga terlibat mempunyai pasukan militer serta intelegen sendiri. Entahlah.

Rasanya tingkat keterlibatan masyarakat dalam mengamati jalannya pemerintahan di Negara ini tidak sekental maupun se-nasionalis Indonesia. Di Indonesia, meskipun tidak ada jaminan pemahaman yang menyeluruh akan politik, tukang becakpun mengomentari pemerintahan SBY (positif maupun negative side of the government). Tapi yang pasti, masyarakat kebanyakan di Filipina paham kalau siapapun yang mencalonkan diri sebagai pemimpin akan mengeluarkan banyak uang dan membagi-bagikannya kepada orang-orang kebanyakan (ring a bell Indonesians?).

Ada lagi satu hukum purba yang masih dipraktekkan di Filipina.  Dalam pemahaman umum masyarakat Filipina, klan-klan keluarga penguasa akan dengan sendirinya alias otomatis memiliki hak impunity, hak atas kekebalan hukum (menyedihkan bukan?). Meskipun hal ini tidak diakui secara hukum namun dalam prakteknya mereka memilikinya. Hingga pada terjadinya tragedi Maguindanao, masyarakat, terutama jurnalis (melalui media massanya) menuntut dihapuskannya praktek-praktek impunity. Ketika Presiden Arroyo mengumumkan adanya martial law di Maguindanao, penerapan hukum ini (menurut jurnalis yang turut dalam penggeledahan) diberlakukan dengan TLC alias tender loving care. Bagaimana tidak? Mereka, para tentara yang datang berbondong-bondong dengan menggunakan kendaraan lapis baja ke salah satu rumah keluarga Antampuan (yang dicurigai kuat adalah dalam massacre), menunggu di luar rumah dengan sabar hingga sang pemilik rumah “mengijinkan”, bayangkan, MENGIJINKAN, mereka masuk dan menggledah rumah mereka. GILA.

Aku rasa, praktek demokrasi di Filipina hanya semacam ngisi absen saja.

Pemilu?

Jalan.

Bahkan untuk pemerintahan sub-district pun mereka mengadakan election. Tapi, esensi dari sebuah kehidupan demokrasi kok terasa hampa ya di Filipina ini. Masyarakat tidak menuntut pemerintah (daerah maupun pusat) jika mereka mengingkari janji kampanye mereka. Mereka menganggapnya sebagai suatu kenormalan. Wah..wah.. Indonesia kalah purba untuk yang satu ini.

Ngomongin soal politik. Mari kita kupas satu per satu. Dari mbah-mbahnya dulu, sebuah penguasaan akan wilayah biasa dilatar-belakangi oleh perebutan atau pendudukan dengan paksa dan kekerasan.  Itu jaman baheula. Sekarang, apakah ada perbedaan? Di sini anda dibebaskan untuk menjawab TIDAK ADA BEDANYA. Hanya saja, penggunaan metodenya yang dipoles sana-sini. Pemaksaan tetap ada. Kalau tidak dipaksa ya digiring. Semua penguasa berusaha mengatas-namakan usaha penguasaannya masih “dalam koridor” demokrasi. Boleh lah orang itu berargumen atau membela diri. Dalam perjalannya beribu tahun (sejak Romawi), demokrasi menjadi arus favorit yang diamini oleh banyak Negara. Mengapa? Karena dalam demokrasi rakyat (individu-individu dalam Negara mempunyai hak bersuara). Sehingga jika penguasa hendak mendapatkan dukungan pemilik suara, dia haruslah popular dengan asumsi sebagai penguasa dia akan memberikan hak suara rakyatnya untuk turut menentukan nasib Negara. Namun demikian, demokrasi sebagai suatu sistem pun tidak luput dari trial-triumph & trial-error. Aku percaya bahwa yang melandasi seorang individu dalam Negara untuk mendukung penguasa berkuasa adalah asumsi akan terpenuhinya hak-haknya serta kepercayaan bahwa sang penguasa akan membawa Negara yang merupakan wadah bagi ribuan-jutaan individu menuju kesejahteraan kumpulan individu-individu yang terasa sampai ke depan pintu-pintu rumah mereka & sampai ke dapur serta tempat tidur mereka. Sudah menjadi awamnya bahwa inilah yang selalu menjadi ujian mendasar setiap Negara yang mengaku mengusung demokrasi sebagai landasan sistem bernegaranya. Sudahkah itu terpenuhi?

Dalam perjalanannya yang panjang, demokrasi menghadapi ujian yang semakin rumit dan kompleks. Sementara pada dasarnya, standar pengukuran keberhasilannya tidak banyak berubah, masih kesejahteraan warga negaranya hingga pada taraf paling individu, apakah para individu pemilik suara sudah menikmati kesejahteraan hingga dapur dan tempat tidur mereka? Meskipun item keberhasilannya ada sedikit penambahan.  Kalau dulunya sandang, pangan, papan, sekarang ditambahi pendidikan dan kesehatan sebagai fasilitas yang harus masuk kategori kesejahteraan warga Negara. Ditambah lagi, Negara tidak hanya mengurusi administrasi kenegaraan, namun Negara juga dihadapkan pada pengelolaan sumber daya yang ada sebagai asset Negara yang diharapkan dapat membiayai jalannya sebuah Negara.

Pasca tahun 1945, di mana banyak Negara-negara koloni yang memerdekakn diri maupun diberi kemerdekaan, pengambil-alihan kepemilikan tanah dan sumber-sumber daya yang ada hampir terjadi di mana saja. Hal ini kemudian dilembagakan dengan berbagai UU atau aturan yang dibuat Negara untuk melandasi pengesahan pemanfaatan sumber daya oleh Negara.  Pengelolaan sumber daya yang ada ini juga sangat tricky. Di satu pihak, Negara mempunyai kewenangan untuk menggunakannya demi kesejahteraan rakyatnya. Di pihak lain, adanya pihak-pihak ketiga yang juga turut bermain dalam rangkaian pemanfaatan sumber daya yang ada sebagai cerminan dari masuknya capital modal dalam perdagangan internasional yang juga melibatkan institusi Negara sebagai pemain pasarnya. Hal ini juga merupakan tantangan berat untuk Negara-negara modern yang masih tetap menggunakan (dan kadang malah terikat treaty) sistem demokrasi demi tercapainya kesejahteraan rakyatnya sampai pada dapur dan tempat tidurnya.

Bahkan beberapa Negara maju seperti Jepang mengusulkan satu sistem khusus untuk menjamin socioeconomic (kesejahteraan penghidupan) security untuk rakyatnya. Pada awamnya memang tidak semuanya dapat memformulasikan dengan baku dan mengacu pada pokok “socioeconomic”-nya, bisa saja aturan ini di-attach-kan pada setiap bidang usaha. Misalnya, pada pabrik, di mana pengelola pabrik harus memperhatikan kesejahteraan buruhnya dengan item-item baku yang disepakati harus terpenuhi semua standar capaiannya. Misalnya lagi, pada usaha pertanian masal yang dikelola oleh perusahaan swasta maupun dikelola Negara, kesejahteraan pegawai serta masyarakat sekitarnya pun harus menjadi prioritas operasional usaha.

Belum lagi persoalan bumi sebagai lingkungan tempat tinggal manusia yang juga sangat perlu mendapat perhatian semua Negara jika kita masih ingin menghuni buni yang tetap inhabitable buat mankind. Negara pun perlu membuat, menerapkan & menegakkan batasan yang mengatur lingkungan beserta semua usaha di atas bumi untuk lebih ramah lingkungan dan mengurangi kecenderungan untuk pengrusakan alam. Meskipun standar kesejahteraan bagi rakyat yang telah memberikan suaranya untuk mendudukkannya di tampuk kekuasaan tidaklah konpleks, kondisi dan situasi zaman yang semakin modern dan kompleks memberikan kontribusi yang signifikan bagi satu institusi Negara untuk menyeleraskan kompleksitas kondisi yang ada menjadi sebuah kondisi yang dirasa oleh rakyat pemilihnya sebagai kesejahteraan (yang masih juga harus terasa sampai dapur dan kamar tidurnya). Ini adalah bukan kewenangan Negara melainkan kewajiban Negara.

Dalam setahun terakhir ini, krisis financial telah melanda hampir di semua Negara di atas bumi. Bank-bank kolaps, perusahaan-perusahaan raksasa bankrut, Negara-negara segera jatuh bangun karena sebagaian uang operasional berasal dari pinjaman bank yang segera saja hutangnya menjadi membengkak karena suku bunga yang sangat fluktuatif ditambah lagi dengan sumber daya yang tidak mendukung untuk mensuport Negara dengan cukup kuat menghadapi badai finansial. Ini juga merupakan salah satu ujian bagi sistem demokrasi.  Bagaimana tidak?  Negara-negara yang sebagian besar turut menandatangani ratifikasi UU perbankan di mana jika bank mengalami kebankrutan maka segala tanggungan bank akan diambil alih oleh pemerintah.  Tampaknya kita telah salah mempercayakan suara kita untuk pemerintahan Negara yang banyak mendukung dan memprioritaskan capital modal. Dampak lebih serius yang diakibatkan keteledoran para penguasa dengan bergandengan tangan dengan banker dan pemilik capital modal adalah banyaknya terdapat celah di mana siapa saja yang dekat dengan penguasa dan pemilik modal akan mendapat fasilitas yang tidak akan didapat oleh orang awam (yang seharusnya dilayani dan dijamin kesejahteraannya).  Karena jabat tangan mereka juga terbatas hanya pada beberapa gelintir orang saja maka pembicaraan yang menyangkut personal serta klik-klik untuk menguntungkan individu akan lebih leluasa tanpa banyak tercium oleh masyarakat. Warga Negara, atau lebih tepatnya konsituen (dalam hal ini lebih tendensius karena berhubungan dengan satu rakyat memberikan satu suara dalam pemilihan penguasa), diwajibkan membayar pajak.  Sementara ketika bank mengalami kehancuran karena korupsi atau penipuan atau salah kelola yang dilakukan oknum banker atau penguasa maka segala tanggungan hutang serta beban financial harus dengan lugas ditanggung langsung oleh Negara i.e. pembayar pajak.

Untuk satu kasus ini saja (krisis financial) kita perlu sekali mengkaji apakah sistem kenegaraan yang selama ini kita percayai telah dapat dipercaya membawa rakyatnya pada kesejahteraan yang terasa sampai dapur dan kamar tidur?  Yang tersisa saat ini adalah beban hutang dan kebangkrutan Negara yang menghimpit sampai ke dapur-dapur dan kamar-kamar tidur di rumah-rumah.  Banyak orang kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempatnya bekerja mengadakan efisiensi sehingga perusahaan terpaksa merumahkan sebagian pegawainya. Pada banyak kasus orang kehilangan pekerjaan semacam ini, yang terasa di dapur dan kamar tidur bukan lagi kesejahteraan melainkan penderitaan dan kesengsaraan.  Belum lagi kalau keluarga itu masih harus menanggung beban pembiayaan untuk anak.  MATI DEH!!! Setiap warga Negara harus memutar otak untuk keluarganya bisa survive dari badai krisis financial global ini. Di mana peran Negara yang setiap tahun, setiap bulan, bahkan setiap saat mengenakan pajak pada belanjaan kita sehari-hari?  Lari ke mana uang pajak yang kita bayarkan? Bukankah kita sebagai warga Negara membayar pajak untuk membiayai operasional Negara supaya orang-orang yang duduk di kursi kekuasaan dapat menyediakan space untuk kita hidup dengan sejahtera serta menyiapkan jaringan pengaman apabila mendadak terjadi persoalan serius semacam krisis financial global ini?

Kembali ke masalah Indonesia & Filipina.  Agak mengherankan bahwa aku tidak kerasan di lingkungan baru.  Entah mengapa.  Mungkin karena aku jauh dari anakku. Mungkin juga tidak. Mungkin karena aku sudah tidak bersemangat lagi dalam bekerja? Aku rasa tidak.  Salah satunya karena firasat.  Tidak menyenangkan kalau sudah mendapat firasat bahwa hal buruk akan menghampiri.  Mungkin bukan firasat.  Mungkin hanya sebuah logika saja.  Terus terang, bukannya menganggap rendah atau menghina.  Di Asia, di mana pemerintah kurang disiplin dalam penegakan aturan serta budaya orang-orangnya yang cenderung “seenak perut” sendiri, membuat kemingkinan-kemungkinan akan terjadinya hal yang tidak membuatku nyaman bisa saja terjadi.  Ternyata benar.  Satu hal, kita sudah merasa direpotkan oleh orang bandara di Soekarno-Hatta.  OK, itu satu hal.  Yang membuatku sedih adalah bahwa proses yang terjadi di sana membuat suamiku sedikit trauma.  Sebenarnya aku pun marah akan apa yang terjadi karena kemudian membuahkan kami harus mengeluarkan extra 400 USD, selain itu juga membuahkan kerja ekstra di mana aku harus susah-susah lagi menghubungi agen perjalanan di Jogja untuk membatalkan tiketku dan memesan tiket baru karena tidak lucu jika aku dan suamiku datang ke Bangkok dengan pesawat yang berlainan.  Payah betul… Seandainyapun aku harus beli tiket lagi dari manila ke Bangkok, tidak apa-apa asalkan tidak lagi membuahkan peristiwa yang traumatis. Who knows.

Pada dasarnya aku adalah orang yang penuh perhitungan dan tidak suka kejutan. Apapun yang tidak dapat diandalkan akan membuatku merasa betul-betul tidak nyaman. Bukan hanya orang, waktu, kondisi, semuanya kalau tidak bisa dihitung membuatku kacau.  Itu sudah pasti.  Mungkin ini sebabnya aku lebih kerasan tinggal di Eropa.  Padahal di sana bukanlah tanah airku.  Di hari pertama aku menginjakkan kaki di bumi eropa, aku bisa dengan tegar melangkah meskipun tidak ada seorang pun yang menjemputku.  Aku hanya bergantung pada sebuah buku panduan dan semua baik-baik saja.

Di Filipina?

None of a thousand year. Sedih memang.  Apa yang bisa kita perbuat jika sudah demikian? Mau teriak tidak ada yang mendengar.  Mau marah juga marah pada siapa.  Semoga kalau ada kesempatan aku bekerja di luar negeri atau melanjutkan sekolah lagi, akan melakukannya di salah satu negara di eropa (Amsterdam would be good J I love the city so much).

Aku bahkan sering berusaha membayangkan jika aku menjadi seorang nasionalis yang dengan penuh cinta pada tanah air sedang melakukan perjalanan untuk menambah ilmu demi kepentingan masyarakat banyak.  Harapanku dengan melakukannya akan tumbuh semangat baru yang setidaknya membuatku melupakan persoalan ketidak-pastian kondisi di Negara ini.  Menyedihkan bukan?  Semangat itu akan tumbuh ketika aku membayangkannya, namun begitu menghadapi kenyataan serta persoalan-persoalan yang memang belum terpecahkan, bayanganku langsung pudar dan aku kembali pada kenyataan yang menarik-narik urat sayarafku.  Oalah gusti.!  Bagaimana harus aku uraikan satu per satu bundetan persoalan ini?  Yah, setidaknya agen travelku di Jogja bersedia membantuku mengcancel tiket pesawatku yang ke Bangkok. Semoga semua berjalan lancar.

Nah, persoalan tiket dan pelayanan, aku sih masih bisa sedikit mengandalkan orang-orang Indonesia ketimbang orang Filipina.  Masih ingat aja sama oknum di host institusiku yang sudah terkenal suka malakin fellows dari Indonesia. Semoga saja dia tidak macam-macam denganku.  Ini masih saja menjadi keprihatinanku akan kebiasaan orang-orang Asia.  Meskipun dokterku di rumah memuji-muji bahwa di Filipina orang lebih baik karena “tidak” seperti orang Indonesia yang suka mencari-cari kesempatan untuk memanfaatkan orang lain, aku tetap keukeuh bahwa “sama” saja!  Bahkan bisa dibilang lebih buruk.  Di masa mendatang kalau aku ketemu dengan dokterku itu aku akan bilang ke dia apa yang aku alami.  Setidaknya dia tidak kemudian memandang orang Indonesia lebih buruk, bisa lah dianggap sedikit sama dan sebangun.

Aku berencana untuk ikut sebuah symposium di Vietnam.  Namun lagi-lagi pikiran akan kemungkinan ditipu dan dimanfaatkan orang membuatku ragu-ragu untuk mendaftar.  Sudah dua orang dengan jarak waktu yang cukup panjang (Aiko di tahun 2005 dan Bu Sri di 2010) mengatakan kepadaku bahwa sopir-sopir taksi di Vietnam suka sekali menyesatkan orang dan meminta bayaran tinggi.  Waduh… Padahal aku tertarik sekali mengikuti acara itu.  Semoga semakin mendekati harinya ada opsi solusi yang menyenangkan buatku.  Masih tetap berharap bisa ke sana sih.

Sebenarnya ada beberapa tradisi yang cukup menghibur (positif) di Filipina ini tapi juga noisy.  Kebanyakan orang di Manila suka sekali karaoke.  Apalagi ketika mereka merayakan hari-hari besar mereka.  Natal misalnya. Suatu hari, ibu kost kami kedatangan famili-familinya dari province (mereka kalau bilang daerah di luar Manila adalah province).  Dari pagi hingga tengah malam mereka berkaraoke dengan volume suara yang mengagumkan, melebihi orang punya hajat di Jawa.  Mending kalau suaranya tidak fals, nah ini!!!  Bayangkan bagaimana aku harus survive hari itu.  Begitupun ketika tahun baru menjelang.  Aku sengaja jalan kaki bersama suamiku menuju kost seorang teman, bukannya memilih jalan dalam kampus Ateneo yang aku yakin tenang, aman dan damai, kami memilih jalan di pinggir jalan umum.  Dan betul saja, sepanjang perjalanan sekitar 2 km kami mempertaruhkan nyawa kami dalam arti yang sesungguhnya. Banyak orang menyalakan petasan dengan ukuran yang mengagumkan dan melemparkan begitu saja ke jalan, bahkan ada yang dengan sengaja melemparkannya di tengah kerumunan orang.  Belum lagi musik yang super kenceng di depan-depan rumah di pinggir jalan.  Ada tiga rumah berhimpitan yang ketiga-tiganya menyalakan musik keras sekali dan menempatkan loudspeakernya di depan masing-masing rumah, dan kami harus berjalan melewatinya sambil harus waspada kalau-kalau ada yang melempar petasan ke jalan di depan atau samping kami.  Ada sih satu petasan besar yang meledak sekitar 5 meter di belakang kami. Cek-cek-cek…. Betul-betul bertaruh nyawa.  Tampaknya mereka begitu menyukai perayaan.

Begitu sampai di kost teman, kami ngobrol hingga tengah malam setelah memutuskan untuk stay saja. Rencana awalnya memang mau keluar, ke Eastwood mall di mana aka nada pertunjukan kembang api spektakuler dan musik yang menyenangkan.  Namun mempertimbangkan bahwa nantinya tidak akan mudah mendapatkan taksi untuk berangkat maupun pulang, kami pun memutuskan untuk tidak pergi ke mana-mana.  Di kost teman itu, sedang ada pesta tahun baru anak-anak Timor Leste.  Kami tidak diundang, tapi itu sama sekali tidak berpengaruh pada obrolan kami yang seru.  Kami bahkan dengan sedikit tidak nyaman berusaha menyadari keberadaan sejarah Indonesia yang dituduh telah menjajah Timor Leste sejak tahun 1975.  Wah, jadi merasa jadi kolonialis nih. Padahal kami sebagai rakyat biasa tidak pernah merasakan manfaat dari penjajahan tersebut.  Mungkin hanya orang-orang tertentu di lingkaran tertentu saja yang menikmatinya.  Namun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa penderitaan karena represi pemerintah rezim orde baru telah dengan amat sangat memberikan memori buruk rakyat Timor Leste yang terasa sampai ke dapur dan tempat tidur mereka.  Memang betul kata U2, vampire or the victim it depends on who’s around.  Sebagai orang Indonesia yang merasa nasionalis (berusaha betul), aku pun terganggu ketika kuliah di Belanda dan sebagian besar masyarakat sana menganggap bahwa mereka tidak pernah menjajah Indonesia, itu semua hanya perjanjian dan kerjasama dagang.  Bah!!!!  Mungkin orang Timor Leste juga berteriak “Bah!!!” terhadap pemerintahan Indonesia atau mungkin menganggap penjajahnya bukan hanya pemerintah Indonesia saja melainkan seluruh rakyat Indonesia di Luar Timor Leste.

Anyway, kami pun ngobrol sampai tengah malam dengan harapan akan mendapatkan show kembang api dari sekitar rumah kost teman itu.  Dan betul saja, karena dia kost di tempat elite di mana banyak orang kaya berumah di kompleks itu, maka beberapa rumah membakar kembang api besar yang bagus-bagus.  Untung kami memutuskan untuk tidak jadi ke mall.  Kami pun akhirnya menghabiskan waktu sampai pagi dengan nonton TV dan ngobrol.  Malam tahun baru yang tidak menghabiskan banyak energi (di luar perjalanan kami on foot dari kost menuju kost teman itu) dan cukup berkesan.

Party

Gusti allah!!!  Ini kalo orang Islam di Indonesia lagi khusyuk-khusyuknya sholat subuh, mereka serombongan datang, ngobrol dengan suara keras.  Tidak cukup sampai di situ ternyata.  Mereka pun menyalakan musik R&B begitu keras selayaknya sebuah pesta atau di klab malam.  Ya ampun.  Ini di Eropa waktunya orang-orang pulang dari pesta, mereka justru sedang memulai pestanya, subuh-subuh.  Sungguh sesuatu yang sangat baru buatku.  Mau bilang apa?  Suamiku memilih untuk tinggal membaur.  Dan inilah resikonya.  Meskipun aku sedang tidak enak badan, sedang pusing, kurang tidur, badan lemas, mata pun serasa berkabut, tidak bisa tidak, aku cuma bisa mengelus dada.  Nanti siang aku berencana ke Ayala, mungkina akan lebih bijak jika aku membeli earphone.  Setidaknya aku berharap akan mendapatkan waktu private yang aku butuhkan untuk berpikir.  Seandainya suamiku mau, aku inginnya sih pindah saja.  Biar dapat beristirahat dengan cukup sesuai jam biologis normalku.  Semenjak aku tinggal di kost ini, jam biologisku berubah drastic.  Tidur pagi, bangun sore.  Mungkin karena kalau malam orang-orang masih ngobrol sampai pagi sehingga suara-suara itu membuatku tidak bisa tidur.  Oh mahalnya harga yang harus kubayar demi sebuah cita-cita.

Terjadi lagi… setelah seminggu tidak ada keributan, si Nina pulang kerja bawa temen-temen cowoknya.  Mereka ngobrol dari jam 7 sampe jam 11 tidak berhenti dan kenceng banget suaranya.  Ngobrol kok kayak mau berantem.  Tampaknya sih hari ini Nina ulang tahun, tapi ya kira-kira dong, mosok dari pagi buta sampe siang gak selesai-selesai ngobrol berantemnya.  Sementara aku sudah terbangun sejak jam 3 pagi.  Padahal tidurku juga tidak sore, aku tidur jam 11 malam L oh, hariku berantakan. Sebenarnya hari ini, aku ingin segera menyelesaikan persoalan visa yang gak kelar-kelar.  Tapi apa mau dikata, hilang sudah mood-ku untuk ke kampus Ateneo.  Jangankan ke kampus, mau sms Rein nanyain soal visa aja rasanya berat banget.  Mana pulsa tinggal 1 peso, itu cuma bisa buat 1 sms local saja, hmm.

Bertahan

Tahan terus nafasmu Any.  Jangan menyerah!!! Perjalanan masih panjang.  Setidaknya masih 6 bulan lagi baru bisa bernafas lega.  Terrible..terrible.

Tidak ada kata-kata manis buatku hari ini.  Yah, hiburanku cuma main ke rumah bu Sri dan masak di sana lalu makan bersama.  Kalau main di mall bisa dipastikan akan membuang banyak uang demi sesuatu yang aku tidak terlalu suka.  Mungkin aku akan ke National bookstore dan membeli salah satu novel Paulo Coelho.  Mungkin akan lebih menyenangkan buatku.  Setidaknya akan mengalihkan perhatianku dari urusan visa yang begitu menyita pikiranku meskipun aku tidak melakukan apa-apa.  Tepat sekali!!!! Justru karena tidak bisa melakukan apa-apa, aku merasa begitu lemah dan tidak berguna.  Kenapa waktu itu aku tidak ke biro imigrasi sendiri ya?  Hap! Hap! Hap!  Tidak ada yang perlu disesali.  Semua sudah terjadi.  Mungkin ini yang terbaik yang diberi gusti allah kepadaku.  Jujur aku kangen gusti allah.

Bukannya aku tidak menyukaimu gusti.  Aku hanya sedang berproses menalaah apa-apa yang kemarin sempat merusak otakku.  Perilaku manusia-manusia yang sama sekali tidak menghargai alam & semua penghuninya.  Dan mereka mengatas-namakan ajaran Muhammad, Yesus, Ibrahim, dsb untuk itu.  Artinya mereka membenarkan perilaku mereka di atas kepercayaan yang sebelumnya begitu indah aku rasa karena aku bisa berjumpa denganmu gusti.  Pun ketika engkau menghilang dari hatiku karena racun itu, aku tetap mempercayaimu.  Kini, tanpa ritual, tanpa ajaran dominant, aku mencoba mencarimu.  Di mana engkau?  Di mana aku bisa menjumpaimu?  Jika aku kembali ke jalan sebelumnya, di mana aku sudah mencobanya, aku tetap tidak bisa menemukanmu.  Aku harus bagaimana?  Aku masih jua merindukanmu.  Bahkan semakin aku melayang, semakin aku merasa kekeringan.  Di mana bisa aku temukan mata air sejukmu itu?

Masih terus menahan nafas.  Kali ini dengan beban 100 kg di dada.  Semakin menghimpit & menyesakkan.

Seandainya aku seorang jumper.  Seandainya…  Ada yang tahu di mana aku bisa belajar melompat?

Masih merasa takut dan khawatir.  Apa yang membuatku berani?  Kepastian?  Pengetahuan?  Keberdayaan.  Mungkin yang terakhirlah yang paling mendekati apa yang aku butuhkan.

Keberdayaan.

Bagaimana satu kondisi ini yang diperjuangkan oleh begitu banyak aktivis kemanusiaan dalam berbagai perspektif maupun bidang kehidupan.  Ada yang bilang usaha pemberdayaan perempuan, anak-anak, orang-orang terpinggirkan.  Bagaimana actor-aktor kehidupan dalam kelompok-kelompok ini bisa sampai pada kondisi di mana mereka dianggap/diasumsikan/dikatakan perlu berdaya.  Apa mereka sebelumnya tidak berdaya?  Kok bisa sampai tidak berdaya?  Bagaimana itu bisa terjadi?

Berdaya

Siapa yang berdaya?  Siapa yang membuat standar “berdaya”?

Pertanyaan-pertanyaan itu perlu sekali dipertanyakan kembali.  Tarik dulu sampai ke akarnya.  Apa yang aku lakukan di sini?  Bagaimana itu mendukung kemajuan misi hidupku?

Kenyataan bahwa aku pun belum berdaya tampaknya cukup signifikan menghambat laju misi.  Masih takut, masih khawatir, masih ragu-ragu tampaknya masih dominant dalam kepalaku.  Apa sebenarnya yang aku takuti?  Betul, betul.  Semua cukup bisa terangkum dengan “tidak berdaya”.  Aku tidak berdaya ketika aku tidak punya pengetahuan tentangnya.  Aku tidak berdaya ketika aku memberikan kepercayaanku kepada orang lain yang lebih tahu.  Kemungkinan terburuk apa yang bisa terjadi dengan memberikan kepercayaan kepada mereka yang lebih tahu?  Betul, betul.  Dikhianati.

Mengapa aku selalu punya perasaan takut dikhianati?  Dikhianati oleh supir taksi di Jakarta, di Manila, di Bangkok, di Hanoi.  Itu ketakutan yang paling riil saat ini.  Aku pernah dikhianati oleh supir taksi di Belanda, tapi mengapa aku tidak takut sama sekali?  Bahkan ketika aku tahu betul bahwa aku sedang dia khianati, aku tidak khawatir sama sekali.  Sementara di Jakarta, di Manila, aku belum pernah sekalipun terbukti dikhianati oleh supir taksi, aku takut naik taksi di Jakarta, Manila, Bangkok, dan Hanoi.  Ada apa ini?

Aku pernah punya ketakutan serupa terhadap laki-laki.  Bahkan hampir-hampir membuatku tidak mau berhubungan dengan lelaki manapun.  Tapi aku tetap saja jalan dengan mereka.  Bahkan ketika aku disakitipun aku hancur tapi aku baik-baik saja & bisa bangun lagi, bahkan lebih kuat daripada sebelumnya.  Tapi supir taksi?  Ada apa ini?

Supir taksi & Strukturalisme

Tanpa aturan yang baku, mereka “punya kuasa” atas penumpangnya.  Ada apa denganku & supir taksi?  Siapa yang bisa memberi jawaban?

Mungkinkah ada hubungannya dengan analisisku sebelumnya tentang budaya orang Asia (maaf, sekali lagi maaf, ini bukan prejudice umum, ini hanya perasaan personal).  Masih sama pertanyaannya.  Ada apa denganku dan supir taksi?

Berharap ada yang membantu menjelaskan apa yang terjadi.  Betul-betul buntu.  Seperti benang kusut yang makin lama makin bundet saja.  Sebetulnya kalau mau sabar dan konsentrasi untuk mengurainya ada kemungkinan aku akan menemukan mana ujung mana pangkal, atau setidaknya mana ujung satu dan mana ujung yang lainnya karena tidak semua harus berujung pangkal, apalagi jika kusutnya sudah keterlaluan begini.  Betul tidak sih kalau ini adalah benang kusut?  Jangan-jangan hanya sebuah ruang dalam bentuk yang tidak jelas, dan lebih mutlaknya tidak ada pintu, jendela maupun celah untuk akses keluar.  Waduh, kalau kemungkinan yang kedua yang terjadi maka akan lebih sulit lagi mencari pencerahannya.  Ini baru berusaha menemukan kemungkinan bentuk persoalannya, belum melihat isi dan asal muasalnya.  Betapa sulitnya menjadi manusia.  Mungkin saja ini adalah hal yang sederhana, tapi kenapa aku sebagai manusia belum juga merasa puas sebelum mempersulit diri sendiri dan terjebak di dalamnya sehingga harus menahan nafas terus?

Supir taksi! Dan masih saja menahan nafas kuat-kuat.

Dari persoalan Negara, politik, hingga supir taksi.

Tidak ada perbedaan yang mencolok sebenarnya.  Nanda bilang, ini adalah strukturalisme.  Boleh juga aku mencobanya.  Tanpa adanya gambaran yang jelas dari bentuk dan materi, masihkah kedua hal ini bisa distrukturkan?  Tantangannya adalah menemukan struktur yang cukup membentangkan garis merah antara keduanya secara signifikan.  Dua bangunan dulu.  Politik dengan supir taksi.  Ironis, meskipun aku banyak menghindarinya (politik) secara praktek, aku masih saja senang mengupas dan mengulasnya.  Sementara supir taksi, meskipun secara teori aku biasa saja membicarakannya dengan teman maupun orang-orang dan bahkan aku seringkali menyarankan teman menggunakannya tanpa perasaan was-was, namun secara praktek, kalau tidak sangat terpaksa, aku emoh berhubungan dengannya.  Perasaan emoh praktek politik dan emoh praktek naik taksi bisa distrukturkan dalam satu bentuk kesamaan.  Gimana menurutmu?  Sederhana memang, tapi bisa dicari-cari tentunya.  Lucu dan sedikit satir: “dicari-cari”.  Strukturalisme?  Bunch of bullshit (kata the doors).

Ternyata setelah berusaha dengan sedikit iseng menstrukturkan dua hal itu, sama sekali tidak mengurangi beban 100 kg di dadaku.  Dan aku masih saja menahan nafas kuat-kuat.

Oh ada lagi satu teori.  Ketidak-berdayaan ekonomi.  Wah kalau yang ini bisa diukur.  Mau pakai teori apa?  Marxis? Atau cara pandang neolib?  Sebuah kenyataan akan perasaan kekurangan atau setidaknya takut kekurangan mungkin yang memberi sedikit latar belakang phobiaku atas kota-kota metropolitan seperti Jakarta.  Namun apakah benar demikian adanya?  Kalau dikupas satu-satu, mungkin awal phobia metropolisku memang berawal dari kemiskinan.  Jakarta-aku miskin.  Amterdam-aku kecukupan.  Manila-aku kaya.  Nah, tidak pas nih.  Jakarta-aku phobia.  Amsterdam-suka sekali.  Manila-aku phobia.

Kalau mau jujur sih, deep down inside my heart, tradisi Asia yang tidak bisa dipastikan itulah yang membuatku ngeri.  Ini bisa distrukturkan dengan traumaku terhadap beberapa orang di Tandabaca.  Asia, anggukan atau kata ya, bisa berarti banyak setidaknya 5 makna: betul-betul ya, ya mungkin, tidak tapi harus sopan maka bilang ya, ignorance, bertanya.  Itu baru satu kata.  Bisa bayangkan pada tataran perilaku?  Bagaimana seseorang bisa tersenyum tapi perilaku dan pikirannya menjatuhkan atau mencelakai orang lain.  Dan inilah yang terjadi di Tempat Aku Pernah Bekerja (TAPB).  Omongan dan praktek tidak sinkron.  Celakanya, mereka (tidak semua lho) orang-orang yang sopan dan terpelajar sehingga bisa membungkus maksudnya dengan sangat rapi nan cantik bahkan cenderung mengagumkan karena betul-betul tidak kentara sampai pada terjadinya kerusakan barulah bisa dirunut, itupun membutuhkan analisis yang tajam dan kuat.  Terus, bagaimana dengan supir taksi?  Apakah supir taksi melakukannya dengan senyuman lalu mengkhianati aku?  Tidak segampang dan sesederhana itu strukturnya.  Tradisi “tidak bisa dipastikan” itu termanifestasikan dengan lebih vulgar dan kasar pada kasus supir taksi.  Setidaknya yang aku asumsikan.  Strukturnya adalah pemanfaatan kelemahan orang.  Orang-orang di TAPB melakukannya dengan cantik dan memikat, supir taksi (ST) melakukannya dengan trik-trik kasar dan norak.  Ketidakpastian orang-orang di TAPB begitu politis, ketidakpastian ST karena tidak ada aturan pasti dari pemerintah maupun pihak berwenang yang mengatur supir taksi untuk tidak mengambil manfaat dari penumpangnya.  Sejauh ini yang aku dengar sebaliknya adalah supir taksi di Malaysia.  Mereka bahkan tidak diperkenankan menerima tips, dan mereka semua sopan-sopan, dan tentu saja mereka tidak menyesatkan penumpangnya.  Mendengar berita itu dari 2 sumber berbeda (Bu Sri & Pak Suaedy) dan dalam kesempatan yang berbeda pula, aku merasa aku tidak akan khawatir maupun was-was jika naik taksi di Malaysia.  Analisis yang sama pernah aku kemukakan di hadapan Nanda beberapa hari yang lalu tentang TAPB dan phobiaku.  Jika aku menemukan lingkungan kerja yang bisa dipastikan dan tidak bertrik seperti di TAPB, mungkin aku tidak akan phobia kerja di tempat itu.  Hanya sekarang pekerjaan itu di mana dan seperti apa.  Jadi, ternyata tidak semuanya bisa dipukul rata.  Supir taksi di Belanda & Malaysia aku tidak khawatir, supir taksi di Jakarta, Manila & Hanoi aku jelas masih saja khawatir.  Kerja di TAPB aku khawatir & was-was, kerja di tempat lain mungkin saja tidak sampai aku menemukan kenyataan yang sebaliknya.

Lumayan juga, dengan strukturalisme aku cukup bisa meraba dan mencoba melihat materi 2 persoalan dalam hidupku yang sampai detik ini masih saja menggangguku. Tapi tetap saja penggunaan strukturalisme terasa lucu dan dipaksakan.  Seperti sesuatu yang naïf tapi mencoba ilmiah (maaf para strukturalis, maaf pak Laksono J).

Ada satu hal yang membuatku penasaran.  Apakah mindset-ku yang perlu diubah atau aku masih harus terus mencari tempat yang tepat untukku tanpa mengubah mindset?  Ini juga cukup tricky.  Ada beberapa hal yang wajib diperhitungkan dan dipertimbangkan.  Hemmm…..

Masih menahan nafas kuat-kuat!

Advertisements

~ by roromendoet on February 22, 2010.

2 Responses to “Ambil Nafas, Tahan!”

  1. btw, meski sopir taksi d malaysia sopan n tdk boleh trima tips, taksi d malaysia mahal betul….ng ada 5 km 15 rm itupun krn dino yg nawar, klo suamiku mah orgny kagak nawar….
    Nik dr Thailand main k Malaysia naik sepur sekitar 10 jam lalu lanjutkan k singapura m pilih naik bus yg ada pijetnya sekitar 200rban…jk m plg dr singapura, pilih naik kreta/bus turun d johor baru cuma 5 dolar singapura lalu sambung naik kereta/bus lagi tiketnya dah ringgit so…lebih murah…ditunggu ya crita selanjutnya spy anik dapat crita lain ttg wajah asia yg tidak semua korup n ada pengemis. di Malaysia aq ng ketemu pengemis, di singapura ada sih pengemis tp kagak banyak

  2. mencoba memahami kata demi kata..
    masih tidak mengerti..
    *sedih mode on

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: