Story of the Left Hands

By Nanda Wirabaskara

Cerita ini mungkin biasa saja bagi banyak orang, tetapi tidak bagi Orang Jawa, Indonesia. Orang Jawa dan Orang Indonesia pada umumnya dengan kultur Islam yang kuat sangat memperhatikan (baca: membedakan) norma-norma baik dan buruk. Sejak kecil anak dibiasakan menggunakan tangan kanan untuk mengerjakan hal-hal yang baik. Untuk makan, dari kecil anak dibiasakan untuk menggunakan tangan kanan. Demikian juga untuk memberi/menerima sesuatu dari orang lain, bahkan untuk menulis atau mengerjakan hal-hal lain yang dianggap baik. Dengan kata lain, tangan kiri adalah tangan yang buruk. Menggunakan tangan kiri untuk berinteraksi dengan orang lain bisa dibaca sebagai sebuah perilaku ketidak hormatan.

Saya punya beberapa pengalaman sebagai Orang Jawa dalam menggunakan tangan kiri—yang saya lakukan sebagai sebuah ‘pemberontakan’ kecil ataupun sebagai sebuah eksperimen. Pernah suatu ketika jari tangan kanan saya terluka dan harus dijahit. Ketika saya membayar makanan di warung makan dengan mengunakan tangan kiri, ibu penjual warung yang sudah saya kenal mau menerima pembayaran saya dengan menggunakan tangan kanannya sambil mengatakan bahwa karena tangan kanan saya sakit hal itu bisa dimaklumi. Demikian juga di dalam kampus, ketika dosen membacakan absensi sehabis mengajar. Teman yang duduk di sebelah saya agak panic ketika melihat gelagat bahwa saya akan mengacungkan tangan kiri saya dan mencoba memberi saran. Ketika tiba gilirannya pak dosen memanggil nama saya, saya tetap mengangkat tangan kiri saya sebagai tanda kehadiran. Pak dosen itu kemudian membaca sekali lagi nama saya untuk dirinya sendiri (tetapi bisa saya dengar) sambil manggut-manggut dan mengatakan bahwa dia akan mengingatnya.

Sedikit lain ketika saya beberapa kali bereksperimen di tingkat sosial bawah: kondektur bus kota. Meskipun tidak pernah saya terima ketidak terimaan verbalik dari mereka, tetapi saya mendapati dua macam respon yang berbeda. Para kondektur yang ‘memperhatikan’ masalah baik-buruk akan menarik kembali tangan kanan mereka dan menggunakan tangan kirinya untuk menerima pembayaran yang dilakukan orang dengan tangan kiri. Respon ke dua adalah respon dari mereka yang tidak perduli atau tidak sempat memperhatikan masalah baik-buruk ini. Mereka menerima saja dengan tangan kanannya pembayaran orang yang menggunakan tangan kiri. Mungkin mereka berpikiran praktis saja, karena kadang-kadang di bus kota seseorang penumpang bisa berada pada posisi yang merepotkan bila harus membayar dengan menggunakan tangan kanan.

Lain halnya dengan di Filippine. Memang secara umum tatanan dibuat dengan bertangan kanan. Tombol di dalam lift terletak di sebelah kanan. Ini masih mudah terjangkau dengan tangan kiri karena ruang lift yang longgar. Lain halnya dengan fasilitas cek tiket elektronik KRL di Manila, box cek tiket berada di sebelah kanan jalan masuknya sehingga agak repot kalau mau memasukkan tiket elektronik dengan tangan kiri.

Demikian juga di Kaamulan Festival—sebuah festifal terbesar di Provinsi Bukidnon yang menampilkan berbagai tarian dan ritus masyarakat adat di Bukidnon. Hal ini terlihat dari berbagai formasi dalam tarian yang seragam bertangan kanan. Seperti formasi para ksatria yang sebagian besar memegang tombaknya dengan tangan kanan.

Formasi bertangan kiri saya lihat hanya muncul satu, yaitu ketika para ksatria memegang tameng dengan tangan kanan dan tombak di tangan kiri. hal ini sangat menarik karena mereka menampilkan tarian yang bersendra tentang peperangan antar suku, dan penggunaan tangan kiri dalam formasi di sini digunakan sebagai pembeda justru untuk suku yang menang. Sedangkan untuk penampilan yang bukan berupa formasi penggunaan tangan kiri bisa ditemui, seperti ketika kontingen dari Municipality of Damulog menampilkan kehidupan sehari-hari masyarakat suku Manubo di mana seorang ibu yang menampilkan teknologi menumbuk jagung menggunakan tangan kiri.

menumbuk jagung

Entah karena di sini mereka kultur Kristennya sangat kuat (bukan kultur Islam) atau karena mereka bukan Orang Jawa, yang jelas mereka tidak membedakan penggunaan tangan kanan ataupun tangan kiri. Tangan kanan atau tangan kiri sepenuhnya sama saja, bahkan di daerah selatan yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Bukan sesuatu yang tabu bagi seseorang untuk makan dengan tangan kiri, baik dia seorang kidal ataupun kanan. Sehingga anak-anak yang berbakat kidal berkembang penggunaan tangan kirinya. Akibatnya banyak orang kidal di Filippine. Meski sekilas masih banyak orang yang menggunakan tangan kanan tetapi di mana-mana bisa dijumpai orang kidal.

tanpa perlu memutar badan

Mengerjakan sesuatu, memberikan atau menerima dari orang lain, berjabat tangan, dan bahkan salim (sungkem) kepada orang yang lebih tua dengan menggunakan tangan kiri adalah hal yang tidak berbeda nilainya dengan jika dilakukan dengan tangan kanan. Bahkan pengemis pun bisa meminta-minta dengan tangan kiri—sesuatu yang nyaris tidak mungkin terjadi di Indonesia.

(bukan) pengemis yg tidak sopan

Beberapa hal yang menarik yang kemudian Nampak sebagai akibatnya adalah banyak orang yang menggunakan kedua tangannya untuk bekerja, baik secara bergantian ataupun bersamaan. Misalnya di sebuah resto atau apotik, sang pelayan bisa menggunakan satu tangannya untuk mengambilkan pesanan dan tangan yang satunya memencet-mencet kalkulator menghitung total belanjaan atau satu tangan menerima pembayaran dan tangan yang lain menulis nota.

dua bungkus dua tangan

Hal lain yang juga menarik adalah banyak orang yang menggunakan tangan kirinya untuk mengatakan sesuatu dalam bahasa isyarat, menekankan apa yang dia ucapkan ataupun bergaya ketika difoto. Dari gambar dalam foto akan bisa terlihat mana anak yang kidal dan mana yang tidak. Dalam bergaya ini pun saya tahu bahwa ternyata baik anak-anak atau orang tua mempunyai gaya standar yang sama ketika difoto, yaitu dengan menempatkan ibu jari dan telunjuk membentuk huruf “V” di bawah dagu.

Satu kiri dua kanan

Advertisements

~ by roromendoet on March 22, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: