Kaum Pemberani

Dwi Any Marsiyanti

Bandingkan perempuan-perempuan yang berjaya diusia kurang dari 50 tahun masa sekarang dengan perempuan-perempuan yang berjaya diusia kurang dari 50 tahun 50 tahun yang lalu. Jangan dikira perempuan pada masa kini saja yang modern. Jangan kita sok merasa bahwa kita lebih cerdas, lebih berdaya, lebih baik, atau lebih sukses daripada perempuan sukses 50 tahun yang lalu. Kalau soal angka atau prosentase mungkin perempuan masa kini bisa lebih berbangga. Namun saya rasa itu hanya soal penyebaran informasi & media saja.

Saya pernah bertemu dengan seorang bekas Gerwani yang hidup di Belanda. Saya sangat kaget & kagum dengan semangat, kecerdasan, keberdayaan, serta yang paling menonjol: keberanian beliau. Belum pernah dalam hidup saya sebelumnya bertemu dengan seorang perempuan seberani beliau. Tapi sayangnya, selalu dan selalu, saya lupa namanya.

Saya merasa bahwa perempuan-perempuan Indonesia saat ini justru menghadapi tantangan yang sangat berat dengan beban-beban sosial yang kurang lebihnya sama dengan 50 tahun lalu, tapi ditambahi dengan dogma agama besar yang 90% ajarannya yang beredar di Indonesia hampir selalu menyudutkan & mengkerdilkan perempuan. Tantangan ini begitu besar kekuatannya bercokol di kepala orang-orang Indonesia yang seringkali ditafsirkan dengan segala cara yang menguntungkan kaum laki-laki saja.

Dominasi kekuatan gender laki-laki di Indonesia lebih menggerus eksistensi perempuan dengan kurangnya ruang dan kesempatan kaum perempuan untuk berdaya di segala bidang. Kasus yang paling sering terjadi adalah penindasan dengan menggunakan keberdayaan ekonomi sebagai senjata. Akses perempuan terhadap sumber-sumber kegiatan yang dapat menghasilkan uang sebagai salah satu faktor keberdayaan ekonomi dalam keluarga sering kali kurang atau bahkan dilumpuhkan sama sekali. Sumber dari persoalan ini bisa bermacam-macam, mulai dari pendidikan yang lebih memprioritaskan anak laki-laki dengan landasan berpikir bahwa kelak anak laki-laki harus mencari pekerjaan yang baik untuk menghidupi keluarga sampai pada unsur budaya yang memang mengarus-utamakan laki-laki alias patriarkat.

Menurut sejarah yang diajarkan kepada saya sejak saya duduk di bangku SD, perempuan-perempuan di jaman Kartini kurang mendapat kesempatan untuk belajar karena waktu itu yang boleh bersekolah hanya anak laki-laki saja (alasannya tidak jelas karena tidak pernah disinggung dalam pelajaran sejarah yang diajarkan kepada saya, atau gurunya pernah mengajarkan tapi saya pas kebetulan tidak mendengarkan atau ngantuk). Kartini berjuang agar kaum perempuan mendapatkan pendidikan yang layak sehingga diharapkan bisa membuka pintu cakrawala untuk kaum perempuan masa itu atas ilmu pengetahuan.

Pada masa sekarang, mari kita list apa yang dicapai kaum perempuan atau diberikan kepada kaum perempuan yang dianggap sukses:

  • akses pendidikan
  • akses kegiatan ekonomi bernilai uang
  • akses politik (sayangnya lebih banyak diberikan daripada dicapai kaum perempuan, tp gpp lah, minimal punya akses)

Namun demikian, halangan & tantangan kaum perempuan masa kini juga cukup beragam dan berasal dari berbagai arah maupun tingkatan yang sebagian sudah saya paparkan di atas. Persoalan yang cukup mendasar dari halangan dan tantangan di atas adalah soal kekuatan dan kontinyuitas. Hal ini cukup bisa dipahami dari berbagai semakin banyaknya kaum perempuan yang memanfaatkan akses-akses menuju kehidupan yang lebih luas daripada sebatas dapur, sumur, kasur. Angka perempuan berdaya & cerdas terlihat semakin tinggi karena pemanfaatan media massa & informasi. Ini bisa membuat orang-orang (baik laki-laki maupun perempuan) yang pro status quo memberikan perlawanan dengan kekuatan yang besar pula untuk membendung laju perkembangan pemberdayaan perempuan. Saya rasa, perasaan cemburu atau terancam kekuasaannya merupakan faktor yang cukup banyak ditemui dalam kasus-kasus pendiskreditan perempuan. Kalimat-kalimat dan kata-kata seperti:

  • Kodrat perempuan adalah bla..bla..bla..
  • Perempuan, sesukses apapun, sebaiknya jangan mengungguli laki-laki
  • Laki-laki adalah pemimpin
  • etc..etc..

yang dilontarkan baik oleh sesama kaum perempuan maupun oleh laki-laki seringkali berusaha mematahkan usaha-usaha perempuan untuk berdaya, maju dan berkembang.

Apa salahnya jika laki-laki berada di rumah, mengurusi pekerjaan rumah tangga & membesarkan anak? Apa salahnya jika istri mempunyai gaji lebih tinggi daripada suami?Apa salahnya jika suami & istri berbagi tugas kerumah-tanggaan & mencari uang?

Saya mengenal beberapa teman laki-laki yang menjadi bapak rumah tangga. Keluarga mereka pun bahagia & baik-baik saja. Saya juga mempunyai pengalaman penghasilan saya lebih tinggi daripada penghasilan suami saya. Kamipun bahagia & baik-baik saja. Saya mengenal beberapa teman yang sudah berkeluarga & saya juga mempunyai pengalaman berbagi tugas rumah tangga & mencari nafkah bersama-sama. Suami saya mencuci piring, saya mencuci baju, suami saya yang menjemur pakaian. Saya meracik bumbu, suami saya yang masak, saya membersihkan kamar mandi, suami saya yang menyapu & mengepel lantai. Tidak ada yang salah dengan itu.

Saya rasa membutuhkan keberanian yang luar biasa dari kaum perempuan untuk maju. Saya juga merasa membutuhkan keberanian yang luar biasa pula dari kaum laki-laki untuk menerima kesetaraan laki-laki dengan perempuan. Hubungan laki-laki & perempuan yang sudah berada pada tataran seimbang adalah mereka yang berani berbeda dari didikan & arus konstruksi ekonomi, sosial, politik, budaya, agama yang patriarkat (yang sayangnya patriarkat ini masih juga bercokol di bumi Indonesia). Mereka adalah kaum pemberani.

-21 April 2010-

SELAMAT HARI KARTINI

untuk laki-laki & perempuan pemberani

Advertisements

~ by roromendoet on April 21, 2010.

4 Responses to “Kaum Pemberani”

  1. Menarik. Pertanyaannya: mengapa kita memperingati hari kartini? mengapa kita tidak memperingati hari Dewi Sartika? Cut Nyak Dien? Cut Muetia? Cristina Marta Tiahahu?

    Apakah kita tidak berfikir aspek politis di belakang itu? Kenapa idealisasi perempuan yang “berfikiran maju” adalah Kartini? mengapa bukan yang lain? mengapa bukan Cut Nyak Dien misalnya?

    Saya sebenarnya tidak mau bertele-tele tentang figur, tetapi apakah kita pernah berfikir tentang apa yang ada di belakang itu?

    • Matur nuwun sekali atas komentarnya mas.
      Saya punya praduga bahwa segala sesuatu sebelum diumumkan apalagi ditetapkan secara nasional yang menyangkut kepentingan dan hajat hidup orang banyak pasti mempunyai pertimbangan politis serta psikologis. Pun dengan pemerintah Indonesia yang kemudian menetapkan tanggal 22 April sebagai hari Kartini dengan slogannya emansipasi perempuan. Mungkin pemerintah waktu itu punya pertimbangan jika yang diperingati hari Cut Nyak Dien dikhawatirkan perempuan-perempuan Indonesia akan bercita-cita sebagai pejuang yang angkat senjata untuk melawan apapun yang mereka rasa sebagai bentuk penindasan. Begitu juga dengan Dewi Sartika, mungkin ada alasannya yang saya sendiri malas untuk meraba-rabanya.
      Sebagai perempuan, saya diminta oleh guru TK saya memakai kebaya waktu tanggal 22 April. Teman-teman saya banyak yang memakai kebaya pengantin daerah. Sedangkan saya kebaya petani dengan warna hijau muda yang sederhana dengan kain yang hanya berada sedikit di bawah lutut serta membawa seonggok padi dalam bakul yang digendongkan di belakang punggung saya. Entah mengapa ibu saya mendandani saya seperti itu. Ibu saya bukan lah aktivis perempuan. Dia hanya perempuan sederhana lulusan SD yang hanya tahu berdagang.
      Selepas TK, saya memperingati tanggal 22 April hanya dengan upacara tanpa pakaian daerah sampai dengan lulus SMA. Namun saya lihat di TV-TV tentang perayaan hari Kartini. Dari laporan berita-berita, mulai saya tahu bahwa banyak perempuan merayakan tanggal 22 April dengan berbagai cara; ada yang seminar, ada yang demo, dan masih ada yang sanggulan & pakai baju daerah. Sebagai perempuan pun saya mulai bertanya-tanya waktu itu. Ada apa di balik perayaan tanggal 22 April selain menjadi mirip dengan foto ibu Kartini yang ada di buku sejarah?
      Bagi saya, mungkin juga bagi beberapa perempuan Indonesia lainnya, adanya hari peringatan yang memotivasi para perempuan untuk berdiri dan duduk sejajar dengan manusia bergender apapun atau pun bertransgender atau berorientasi seksual apapun, merupakan hari yang istimewa. Mau itu disebut hari Kartini, hari Cut Nyak Dien, hari Dewi Sartika, atau hari-hari lainnya, saya hampir tidak ambil pusing lagi. Itu hanya persoalan politis yang kalau digugat pun tidak akan mengubah apapun secara signifikan, setidaknya tidak dalam waktu dekat. Yang penting bagaimana kita memaknainya supaya hari itu istimewa dalam hidup kita masing-masing. Dan bagi saya, hari itu istimewa karena mengingatkan saya bahwa semua perempuan atau laki-laki atau waria atau transgender atau gay atau lesbian semua sama.
      Dan untuk mereka yang merasa belum sama, saya rasa masih butuh banyak energi yang harus dikeluarkan untuk memahami konsep yang bisa dimaknakan (ini hanya masalah subjektivitas) pada peringatan 22 April. Dan akan dibutuhkan energi dan kelegowoan hati serta keberanian pihak-pihak terkait (misalnya pasangan hidup, keluarga, teman ataupun lingkungan) untuk bisa sama dan sejajar dalam kehidupan sehari-hari tidak secara konsep tapi sudah pada prakteknya.

      Salam hangat,

      a

      • Maaf sedikit koreksi, Hari Kartini diperingatinya tgl 21 April Tante.
        Bangsa kita masih dlm taraf “belajar” utk bener2x menerapkan kesetaraan gender ini, karena sbgmn kita tahu, budaya bgs kita terbanyak adl patriarki yg menganggap laki-laki adalah manusia no. I. Tapi saya amati, utk pasangan muda pandangan ini sdh banyak bergeser dan mereka lbh mengutamakan kerja sama dlm mbtk keluarga yg mereka inginkan.

  2. Saya sependapat. Di lain pihak saya sebenarnya juga sering merasa aneh, misalnya ketika mertua saya memaksa saya berhenti cuci piring atau ngepel rumah dan memarahi istri saya karena itu:(

    Saya juga kadang-kadang melihat teman-teman kuliah yang dulunya biasa ngurus diri sendiri, tiba-tiba jadi bodoh dan pemalas setelah menikah. Bayangkan: untuk bikin kopi saja sudah tidak bisa, makan harus dilayani. Perubahan seperti itu justru terjadi setelah berkeluarga.

    Istri saya pernah cerita, katanya teman-teman kerjanya (laki-laki) kasian pada saya karena saya sering bikin kopi sendiri, masak sambel, atau nybokin anak. Tapi saya senang dengan itu.
    Di sisi lain, sebagian perempuan justru menganggap bahwa laki-laki tidak pantas melakukan pekerjaan “rumahan”

    Jadi mari sama-sama berubah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: