Lautan Merah di Bangkok

Oleh Dwi Any Marsiyanti         Chiang Mai  15 May 2010

Pemberitaan tentang demonstrasi kaos merah (red shirt) di Bangkok sudah terasa simpang siur.  Masing-masing pihak memberikan informasi hanya sebatas menguntungkan dirinya atau kelompoknya.  Sungguh sangat disayangkan penggunaan metode purba yang tidak kesatria ini akhirnya dapat menjadi bumerang bagi yang melontarkannya.

Dari awal berhasil duduknya Thaksin ditampuk kepemimpinan PM Thailand berkat usahanya mendekati masyarakat kecil dan terpinggir (jadi ingat semboyan Megawati: Wong Cilik).  Suara terbanyak yang masuk untuk Thaksin adalah berasal dari masyarakat rural.  Pada dua tahun pertama, Thaksin sungguh-sungguh bekerja sebagai PM yang diinginkan konstituennya.  Hal inilah yang masih membekas di hati para pemilihnya.  Meskipun ditahun ketiga performa Thaksin mendedikasikan kerjanya pada konstituennya menurun, dan pada tahun-tahun berikutnya semakin menurun, masyarakat kecil sudah sangat berterima kasih atas dua tahun pertama Thaksin.

pendukung kaos merah kebanyakan dari rakyat kecil. mereka mengibarkan bendera merah dan mendengarkan orasi dari radio

Ketika pendukung kaos kuning yang sebagian besar merupakan golongan menengah terpelajar menilai pemerintahan Thaksin sangat korup, mereka menggugat Thaksin untuk turun dari jabatannya. Merasa tidak bisa membuktikan sebaliknya, Thaksin pun turun dari kursi PM dan melarikan diri ke luar negeri.  Pemerintahan di bawah kepemimpinan Abishit pun terbentuk dengan dukungan dari kelompok kaos kuning dan militer.

Baru seumur jagung, pemerintahan baru digugat oleh kaos merah yang merupakan pendukung Thaksin.  Ada apakah gerangan?

Saya rasa, ini bisa dikaitkan dengan isu-isu perjuangan kelas.  Meskipun tidak menutup kemungkinan karena ambisi seseorang yang kemudian memanfaatkan kekuatan kelas bawah dengan sangat jitu.  Selama ini kelas bawah yang mayoritas merupakan masyarakat petani di rural area serta masyarakat kecil, seumur-umur belum pernah diperhatikan oleh pemerintahan siapapun kapan pun sebelum Thaksin mendekati mereka.  Dalam dua tahun pertama Thaksin menduduki tampuk pemerintahan, ini merupakan periode yang membahagiakan bagi kaum cilik Thailand.  Meskipun hanya dua tahun, mereka sangat menghargai Thaksin.  Kondisi pemerintahan Thaksin yang korup tidak membuat masyarakat pendukungnya menjauh dari Thaksin.  OK, mungkin menjauh sebentar, tapi ilusi dua tahun yang diberikan Thaksin sungguh merupakan kenangan yang sangat indah.  Meskipun tahun-tahun berikutnya mereka kembali terpinggirkan, setidaknya Thaksin telah memberikan dua tahun yang indah.

Ketika demonstrasi kaos merah di Bangkok berlarut-larut hingga lebih dari 1.5 bulan, kejadian ini telah membunuh sumber utama penghasilan banyak penduduk Bangkok dari turisme serta penduduk Bangkok lain yang harus berangkat ngantor tiap hari.  Pada awalnya, penduduk Bangkok tidak keberatan kaos merah demonstrasi.  Namun ketika sudah berlarut-larut dan masa demonstrasi menutup banyak akses jalan maupun kantor atau tempat kerja lainnya, banyak penduduk Bangkok (kecuali yang mendukung kaos merah tentunya) pun mulai gerah.  Jalan-jalan yang merupakan kantong-kantong demonstran berubah menjadi kotor karena sampah di mana-mana.  Orang mau berangkat kerja pun harus menerima kenyataan dia tidak bisa lewat dan akhirnya harus bolos.  Warung-warung makanan di daerah kantong demonstrasi dipaksa tutup karena tidak ada orang yang berani makan di tempatnya.  Lambat laun, kaum pedagang dan pekerja yang berada dalam kelas menengah pun dipaksa gulung tikar atau tidak bekerja.  Ketika masyarakat Bangkok yang mulai merasa terganggu protes, mereka pun dicap sebagai golongan kelas menengah yang Fascist karena tidak mendukung mereka kaos merah yang mengkalim diri mereka sebagai kaum demokrat.  Hallo????????  Salah kaprah deh.

Setidaknya telah terjadi beberapa kesalahan strategi dari pimpinan kedua belah pihak.  Pimpinan kaos merah telah memberikan standard capaian gerakan yang terlalu tinggi.  Massa pendukung kaos merah digiring untuk percaya dan bertekad bahwa sebelum mereka berhasil membubarkan parlemen, yang kemudian semakin naik dengan tuntutan mundur PM Abhisit serta menuntut PM untuk melarikan diri ke luar negeri sebagaimana dengan yang dilakukan Thaksin, mereka akan bertahan di jalan.  Ketika para pimpinan kaos merah berunding dengan pemerintahan Abhisit, mereka mencapai kesepakatan politis yang cukup realistis yaitu mengadakan pemilu secepat-cepatnya, tanggal 14 November. Namun karena kesalahan strategi indoktrinasi pada massa-nya, para pemimpin kaos merah tidak dapat menemukan cara untuk memberitahukan kesepakatan politik mereka tanpa harus merasa mengkhianati massa kaos merah yang sudah terlanjur tersulut kebenciannya atas pemerintahan Abhisit dan masih bergeming agar Abhisit turun dari kursi PM.

Pimpinan kaos merahpun terbelah dua; mereka yang mau menerima kesepakatan dengan pemerintahan Abhisit dan mereka yang menolak.  Karena perpecahan itu pulalah yang menyebabkan mereka kehilangan kontrol atas massa mereka sendiri.  Massa sudah terlanjur tidak peduli dengan kesepakatan politik yang ada di kala mereka menjadi sangat terbakar emosinya ketika teman-teman seperjuangan sesama kaos merah tergeletak tak bernyawa tertembus timah panas dan beratus-ratus lainnya cidera karena bentrok dengan aparat.  Di sini lah kesalahan pertama strategi pemerintahan Abhisit dalam mengambil sikap untuk menghadapi para demonstran.  Tanggal 10 April merupakan hari yang sangat kelabu bagi semua pihak ketika setidaknya 25 orang meninggal dunia dan 800 lainnya terluka.

Kesalahan kedua dari pihak Abhisit maupun kaos merah adalah sangat konyol.  Tampak sekali bahwa keputusan yang diambil berdasarkan kepentingan politis semata yang pada akhirnya berakhir pada tragedi berdarah kedua, 13 Mei 2010, yang sebetulnya sangat tidak perlu.  Yang diperlukan untuk menghindari kesalahan berdarah selanjutnya adalah yang seharusnya sudah dilakukan kedua belah pihak sebelum tragedi berdarah kedua meletus.  Baik pihak pimpinan kaos merah maupun pihak Abhisit jika memang telah mencapai suatu kesepakatan hendaknya mereka bersama bergandengan tangan untuk melunakkan hati massa demonstran yang sudah terlanjur panas dan emosional.  Tidak ada salahnya kedua belah pihak duduk bersama di lapangan di mana massa demostran berada dan berdialog.  Tapi tidak, itu tidak mereka lakukan. Hanya karena Abhisit tidak ingin kelunakan hatinya menghadapi tuntutan kaos merah akan terasa mengkhianati teman-teman partainya dan partai-partai koalisinya.  Sementara pimpinan kaos merah pun tidak punya nyali untuk meminta maaf kepada pendukungnya karena kesepakatan politis yang realistis ternyata tidak sesuai dengan standard yang mereka canangkan sebelumnya.

Analisi kelas menjadi sangat krusial pada titik ini.  Kenyataan bahwa masyarakat kecil atau kelas bawah mempunyai kekuatan yang sangat besar mengharuskan siapapun yang duduk dalam pemerintahan Thailand untuk berpikir dan segera mempertimbangkan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat kelas bawah.  Silakan duduk di perempatan Rajprasong bersama para demonstran, dengarkan kebutuhan mereka, penuhi hak-hak mereka sebagai warga negara.  Sudah saatnya pemerintahan di Bangkok memperhatikan aspirasi dan kebutuhan masyarakat kecil dan masyarakat rural.  Jangan hanya mendengarkan lalu memberikan janji-janji pada mereka, tapi jika sudah mendengarkan dan memberikan respon secara text, segera nyatakan dengan tindakan.

Saya rasa itu merupakan alternatif yang sangat perlu dicoba kedua belah pihak.  Langkah awal yang paling penting adalah sedikit merunduk dan sedikit mengesampingkan kepentingan pribadi dan golongan demi keutuhan Thailand.  Yang paling penting bagi Thailand saat ini adalah tidak menambah perpecahan yang sudah terlanjur ada.  Jika jalan tengah bisa dicapai, tidak akan ada lagi gerakan kaos kuning, kaos merah, kaos pink, multicolour atau apapun.

Advertisements

~ by roromendoet on May 15, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: