PROSAFOTOGRAFI

oleh: nanda wirabaskara

Kesempatan berada di tengah-tengah masyarakat dengan budaya dan bahasa yang berbeda tentulah sesuatu yang harus dieksplorasi habis-habisan untuk melihat dan memahami budaya lain. Setelah itu tentulah menuliskannya! Pada awalnya, dengan kamera poket di tangan, latar belakang ilmu antropologi yang saya pelajari mengarahkan saya untuk membuat etnofotografi. Setelah beberapa karya etnofotografi, tantangan mulai muncul untuk melakukan eksplorasi. Begitu banyak dan beragam peristiwa yang saya jepret pada awalnya menghadirkan ide untuk membuat fotokomik. Tapi ternyata membuat fotokomik ini sangat melelahkan dalam proses layout atau tata artistic gambarnya—terlebih lagi computer yang saya gunakan pelan-pelan saja jalannya. Saya mulai mencari-cari jalan untuk berbelok. Essay foto pada awalnya terpikirkan untuk menjadi alternatif, tetapi setelah saya cari-cari berbagai contoh essay foto, nampaknya tidak cocok bagi saya karena jajaran foto yang dibiarkan berbicara sendiri setelah diberi sedikit kata pengantar di awal. Kecenderungan pembaca akan tertarik pada kualitas fotografisnya, bukan pada cerita yang ingin disampaikan. Essay foto ini mungkin lebih cocok bagi para fotografer yang lebih kritis terhadap teknis fotografinya. Bagi saya yang alirannya lebih ke etnografi—etnofotografi—cerita yang disampaikan jauh lebih penting.

Akhirnya saya menemukan bentuk yang lebih pas untuk menyampaikan sebuah etnografi tanpa banyak tulisan. Sebenarnya bentuk seperti ini masih masuk kategori etnofotografi, cuma dalam penyampaiannya porsi tulisan dikurangi dan porsi foto ditambah. Penggunaan gaya bahasa yang bebas mungkin mengesankan tulisannya lebih bersifat sastra daripada etnografi. Jadilah saya sreg dengan penamaan “prosafotografi”. Penamaan ini mengacu pada tulisan Linus Suryadi AG, “Pengakuan Pariyem” yang ditulis dalam bentuk prosa lirik yang meskipun bentuknya prosa tetapi tetap dijadikan referensi oleh ilmuan sosial di Indonesia. Dalam semangat karya Linus tersebut sebenarnya sebuah karya prosa sangat bisa digunakan untuk memaparkan sebuah gejala budaya. Kalau dikonvert pemaparan gejala budaya itu dengan etnofotografi, tentunya dengan prosafotografi ini saya masih mempunyai ruang untuk mengasah kemampuan ‘menulis etnografi’. Dengan model prosafotografi ini saya bisa menuliskan pengalaman saya tentang budaya lain—bagaimana budaya lain itu berbeda atau bagaimana budaya lain itu sama dengan budaya saya.

Ketebalan minat saya untuk mulai mengembangkan model “prosafotografi” ini didasari oleh pengelihatan (dan kenyataan diri) saya bahwa sebenarnya orang lebih suka untuk tidak (banyak) membaca. Membaca sementara ini menjadi konsekuensi dari keingin tahuan terhadap sesuatu dengan murah. Semahal apapun sebuah bacaan harus dibeli, itu tetap jauh lebih murah dari pada mencari tahu dengan mengalaminya sendiri. Sebuah tulisan bagus yang berpanjang kata dan berlebar alinea tentu akan menarik untuk dibaca bagi orang-orang yang menekuni bidang yang sama atau minat yang sama—dengan minat baca yang sudah jadi. Bagi orang yang menekuni bidang yang berbeda atau mempunyai minat yang berbeda, sebuah tulisan yang menarik terpaksa berada di urutan sekian untuk dibaca. Biasanya disimpan di rak buku untuk sementara waktu, dan biasanya juga, sampai lupa. Model prosafotografi ini saya kira bisa menjembatani untuk membuat lebih banyak orang tertarik dan menyita lebih sedikit waktu untuk memahami apa yang ingin disampaikan. Lebih sedikit waktu ini adalah pada awalnya, karena sebuah karya prosafotografi yang bagus akan menghantui orang lebih lama. Menyita lebih banyak waktu orang untuk berpikir tentangnya.

Membuat karya prosafotografi ini adalah sebuah tantangan besar melampaui tantangan membuat karya etnofotografi bagi saya. Kelebihan tantangan yang harus diatasi dalam membuat karya prosafotografi ini adalah bagaimana menyampaikan suatu gejala sosial atau budaya dalam kalimat pendek dan bagaimana menemukan gejala tersebut terjadi di lapangan—dan pada saat gejala tersebut terjadi, memotretnya!

Menyampaikan sesuatu dalam kalimat-kalimat pendek akan membuatnya terkesan seperti puisi, dan karena model ini dipersiapkan untuk menyampaikan gagasan yang lebih kompleks dan panjang akan membuatnya seperti prosa. Keberadaan foto dalam prosafotografi sangat diperlukan untuk menyampaikan bukti visual, sehingga bisa mengeliminasi kebutuhan repetisi atau kebutuhan untuk mengulasnya dengan berpanjang kata. Keberadaan foto dalam prosafotografi ini akan mengurangi kebutuhan untuk berpanjang kata dalam prosa lirik.

untuk contoh karya prosafotografi bisa dilihat pada kategori prosafotografi di samping atau bagi yang punya akun fesbuk diklik saja ini

Advertisements

~ by roromendoet on May 23, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: