candikala dewi padi

< sebuah cermin perjalanan spiritualitas manusia >

by nanda wirabaskara

pada awalnya kehidupan begitu sederhana
manusia di bumi dengan rumah sawah dan hutan
dewata di langit dengan kering panas dan hujan
berlantun dalam irama sahaja yang harmoni dengan semesta alam

jalan setapak, sawah dan hutan

hujan yang turun awal musim ini seolah menabuh genderang bagi para petani
untuk menyambut musim tanam dengan upacara
sedikit sesaji bunga dan darah babi dipancangkan di sawah
bahasanya mengundang dewi padi yg sudah cukup istirahatnya di lumbung
“datanglah ke sini, o ibu dewi. bantulah kami bertanam padi…”

pancang sesaji bunga dan darah babi

“ini kami persembahkan darah babi untuk mu, ibu dewi…
dan kami memasaknya di sini, di gubuk tengah sawah kami, untukmu
di sini akan ada babi panggang, datanglah kemari
marilah kita makan bersama2 dan setelah itu, kita kerja!”

di sini akan ada babi panggang

“kami yang akan menanam dan ibu dewi yang akan memberkati
hingga sawah menghijau sampai akhir panen raya,
dan dengan upacara kami akan memanggilmu pulang ke lumbung kami
waktu bagimu untuk beristirahat”

kami yang menanam

kemudian manusia mulai bertambah, dan semua mengikutinya
mereka menuntut ‘pertambahan nilai’ dan pertambahan taraf kehidupan
hingga bertanam tak lagi cukup: tak cukup lahan, tak cukup kenyang
dendang hidup berkota, itulah cahaya jaman baru

cahaya jaman baru sudut chiang mai, sore selepas hujan pertama

mereka tidak lagi bertanam dan mereka tidak lagi bekerja bersama ibu dewi
mereka tidak lagi punya lumbung dan mereka tidak lagi punya rumah untuk ibu dewi beristirahat
tapi mereka tetap percaya berkah ibu dewi lah yang memberi mereka berlimpah makan
sehingga mereka mulai menempatkan ibu dewi dalam figur cantik arca di kuil2 untuk dipuja

khusu dalam doa

“kami akan selalu memujamu, ibu dewi, bahkan sepanjang tahun!
tetapi kami tidak akan lagi memanggilmu ke sawah karena kami sudah tidak punya sawah
dan kami juga tidak akan pernah memanggilmu pulang karena kami juga tidak punya lumbung
bersemayamlah dalam arca itu sepanjang waktu dan kami akan selalu mengirimimu bunga dan membakar dupa”

seroja untuk dewi padi

(“maafkan kami, ibu dewi, yang tanpa sadar telah memenjarakanmu!”)

Advertisements

~ by roromendoet on July 10, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: