MEMBACA TRADISI SURAN, MENELISIK SEJARAH ISLAM MATARAM

Analisis Wacana oleh nanda wirabaskara

Hujan yang turun sejak siang tadi sepertinya tidak sedikitpun mengurangi antusiasme warga Dusun Saragan, Sleman, Yogya untuk merayakan upacara suran sore ini. Setiap kepala keluarga datang ke rumah Pak Dukuh dengan membawa satu bungkus nasi dengan lauk-pauk komplit yang dibungkus kain taplak. Sore ini adalah tahun baru Hijriyah menurut tradisi Jawa yang memulai pergantian hari dari sore. 1432 adalah tahun baru yang sedang disambut.

suran hujan-hujan

Sesampainya di rumah Pak Dukuh mereka membuka ikatan bungkus taplak nasinya dan menaruhnya di tengah ruangan, duduk bersila mengelilinginya dan membayar iuran 1000 rupiah untuk diamplopkan pada Pak Modin yang memimpin doa.

berkat nasi dengan lauk-pauk

Upacara dibuka oleh Pak Dukuh dengan membacakan maksud dan tujuan menyelenggarakan suran sore itu, yaitu menyambut tahun 1432 H dengan segala harapan baik dan doa. Selesai Pak Dukuh membuka upacara, waktu pembacaan doa diberikan kepada Pak Modin.

jamaah suran

“… kepada Kanjeng Nabi beserta keluarga dan para sahabat yang dimakamkan di Mekkah, Madinah, Demak, Mataram, dan seterusnya…”

Begitulah Pak Modin selalu membacakan kepada siapa rasa hormat dan doa dikirimkan oleh para jamaah. Dalam setiap doa bersama. Sebagai penghargaan atas jasa-jasa mereka sebagai pemimpin dan pendahulu umat Islam di desa.

Dalam setiap bacaan pembukaan yang panjang kali lebar, sekelumit bacaan itulah yang menarik perhatian saya yang baru tinggal di desa ini. Penggalan bacaan itu seolah memberi tahu saya bagaimana asal mulanya masyarakat di sini memeluk Islam. Tergambar jelas dalam pikiran saya bagaimana dahulu para pemuka Islam Kerajaan Mataram ketika melakukan syiar. Meng-Islamkan rakyatnya.

Sistem paternalistik Islam (di Jawa) yang selalu menempatkan yang lebih tua sebagai pihak yang dihormati membuat penggalan bacaan itu menjadi jelas bagaimana alur asal-muasal masyarakat Islam di Bumi Mataram. Orang tua bagi anak-anaknya, guru bagi murid-muridnya, demikian juga kyai bagi santri-santrinya.

Demikianlah keimanan pak Modin didapatkan dari pendahulu-pendahulunya yang pada tingkatan ke sekian di atasnya telah dimakamkan di Mataram. Dengan gelarnya sebagai Sayidin Panatagama Khalifatullah Ing Ngayogyakarta–penata agama wakil Allah di Yogyakarta, raja Mataram adalah pemimpin tertinggi Umat Islam di Bumi Mataram. Dalam penggalan bacaan itu disebutkan bahwa di atas Mataram adalah Demak–yang berarti bahwa kesemua yang tersebut di atas (dari masyarakat, modin, sampai raja Mataram) adalah keturunan (skolastik) dari Kerajaan Demak. Di atasnya Demak disebutkan Madinah dan di atasnya lagi adalah Mekkah. Ini berarti bahwa masyarakat Mataram yang sekarang ini masih menganut keyakinan bahwa galur mereka yang dari Demak itu masih keturunan (skolastik) Mekkah dan Madinah, yaitu merupakan keluarga atau sahabat dari Kanjeng Nabi.

Apakah memang seperti itu yang sebenarnya dan disampaikan pada seluruh rakyat Mataram ataukah garis keturunan (skolastik) itu merupakan klaim dalam rangka membangun identitas Mataram Islam (pada waktu itu)?
Atau mungkin ada analisis yang berbeda lagi? Semua itu kembali pada kemerdekaan para pembaca untuk memberi makna dalam pikiran masing-masing.

Advertisements

~ by roromendoet on December 7, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: