BEREFLEKSI PADA BENCANA MERAPI, MEMBACA MITOS ABABIL

nanda wirabaskara

“Dan diturunkan kepada mereka burung berpasukan-pasukan. Melontar atas mereka itu dengan batu daripada tanah yang terbakar. Maka menjadikan mereka itu oleh Allah seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”. (QS Al Fill: 3-5)

Begitulah dikisahkan dalam Al Quran (kepada Umat Islam) tentang mala petaka yang dialami oleh tentara bergajah Raja Abrahah ketika memasuki Kota Mekah untuk menghancurkan Ka’bah. Peristiwa yang dikisahkan ini terjadi pada saat Nabi Muhammad SAW dilahirkan, tahun 571 Masehi atau yang dikenal sebagai tahun fiil–tahun gajah. Ada bermacam tafsir atas surat ini, namun pada intinya kebanyakan meyakini bahwa hujan batu dan pasir panas yang menimpa tentara Abrahah ini terjadi sebagai hukuman Allah kepada orang-orang yang berdosa karena berniat menghancurkan Ka’bah.

Marilah kita bayangkan perkembangan ilmu pengetahuan (di Arab) pada abad VI ketika perstiwa itu terjadi. Ilmu geologi tentu tidak seberkembang sekarang. Hujan batu dan pasir panas yang terjadi tentulah sesuatu yang tidak masuk akal pada waktu itu. Bala tentara Abrahah boleh jadi menganggapnya sebagai “kutukan” yang menimpa mereka. Lain halnya Umat Nabi Ibrahim di Mekah sebagai pihak yang diserang. Mereka memaknai peristiwa itu sebagai hukuman Allah kepada orang-orang berdosa–mengirimkan burung-burung ababil untuk menciptakan “hujan batu dari neraka”.

diterjang hujan abu panas +/- 600 derajad Celcius

1.500 tahun setelah itu ilmu pengetahuan tentulah sudah jauh berkembang. Berbagai bencana alam tidak lagi menjadi misteri. Semua itu adalah gejala alam yang wajar. “Burung-burung yang melontarkan batu dan pasir panas” itu tentulah hanya sebuah perumpamaan supaya orang-orang (Arab) pada waktu itu bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi.

REFLEKSI

ruang tamu yang kebocoran awan panas

Kamis malam, 18 November adalah saat ketika orang-orang yang tinggal di Yogya benar-benar was-was. Suara dentuman menggelegar bertalu-talu terdengar dari kawah Merapi. Pak Sam yang tinggal di radius 22 km menelepon kakaknya yang tinggal di Pakem–sekitar radius 10 km dan mendengar kabar bahwa di pakem sudah hujan pasir dan kerikil. Dia segera meminta kakaknya untuk mengajak semua saudara yang tinggal di situ untuk mengungsi ke rumahnya. Menedekati tengah malam hujan pasir dan kerikil menjangkau semakin ke selatan melewati radius 25 km. Jalan kaliurang yang berpasir padat merayap ke selatan oleh pengungsi. Pak Sam kontan panik dan mengajak istri dan anaknya untuk mengungsi–asal ke selatan. Rencana pengungsian Pak Sam itu batal setelah diingatkan oleh anak lelakinya yang kelas 3 SMA bahwa saudara-saudara yang mengungsi dari pakem belum sampai.

Begitulah hujan pasir dan kerikil masih terjadi sampai saat ini, dan akan terus terjadi sampai akhir dunia. Sayangnya tidak semua orang mengikuti 1.500 tahun perkembangan ilmu pengetahuan. Ketika Gunung Merapi meletus pada Bulan November 2010 masih banyak orang yang memaknai hujan abu, pasir, dan kerikil yang memusnahkan desa-desa di lereng merapi itu sebagai “hukuman Allah kepada orang-orang berdosa”. Orang-orang yang mempunyai pemaknaan seperti ini tentulah bukan orang-orang yang tinggal di lereng Merapi. Kalau orang-orang itu tinggal di lereng merapi tentulah pemaknaan mereka akan BERBEDA.

desa yang musnah

Pemaknaan seperti itu tentulah merupakan sesuatu yang berbahaya bagi kelangsungan hidup bersama secara rukun habluminannas. Hujan abu, hujan pasir, dan hujan kerikil yang terjadi bukanlah sesuatu yang dibawa oleh burung-burung ababil dari neraka. Ilmu geologi telah bisa menguak peristiwa itu sebagai gejala alamiah dari gunung berapi. Abu, pasir, kerikil–bahkan lava pijar–itu terlontar dari kawah Gunung Merapi sebagai akibat dari aktivitas vulkanik. Kalau kemudian material vulkanik itu menerjang dan merusak semua yang dilewatinya, yang berupa desa-desa dan hunian manusia, itu bukanlah hukuman Allah. Orang-orang dan ternak yang mati karenanya tidaklah “bagai daun-daun yang dimakan ulat”. Mereka adalah korban. Apa yang menimpa orang-orang di lereng Merapi itu sepenuhnya merupakan MUSIBAH.

Marilah kita beragama secara cerdas!

Advertisements

~ by roromendoet on December 19, 2010.

2 Responses to “BEREFLEKSI PADA BENCANA MERAPI, MEMBACA MITOS ABABIL”

  1. bisakah anda menunjukan gunung berapi yang lokasinya berdekatan dengan TKP (lokasi gugurnya tentara gajah)..?

    jika anda tidak bisa menunjukan berarti anda hanya mengira2 aja

  2. menurut saya bukan dari gunung berapi/tidak sama dengan letusan gunung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: