Kaamulan Festival

nanda wirabaskara

kaamulan welcome gate

Festival mungkin banyak di Indonesia, tapi Kaamulan Festival di Malaybalay City, Bukidnon, Mindanao, Fillipine adalah sebuah festival dengan spirit yang berbeda. Dengan diiringi keramaian bazaar dan pameran produk dari berbagai kabupaten dari propinsi Bukidnon, festival ini diadakan sabtu pertama bulan Maret setiap tahunnya.

gladi para penari                                                    gladi para penabuh

deretan tambol-tambol

Dengan diikuti 7 municipality (kabupaten) secara bergiliran di Provinsi Bukidnon ditambah Malaybalay City sebagai peserta tuan rumah, festival ini memberikan ruang bagi suku-suku atau masyarakat adat di Bukidnon untuk menunjukkan budaya dan tradisi mereka. Mereka yang berpartisipasi dalam festival ini adalah masyarakat adat itu sendiri, bukan orang-orang tengahan yang mengenakan kostum masyarakat adat.

prajurit manobo

kaamulan’s girls

Kaamulan dalam bahasa Binukid—bahasa daerah Suku Bukidnon—berarti berkumpul. Dari berbagai data di internet dikatakan bahwa nama ini diambil dari tradisi berkumpulnya 7 suku di Bukidnon, yaitu Bukidnon, Higaonon, Talaandig, Manobo, Matigsalug, Tigwahanon dan Umayamnon untuk upacara mempererat hubungan antar datu—para pemimpin suku, pernikahan atau pesta merayakan panen.

tarian gekang-gelang kaki

Namun dari cerita seorang bae dari Suku Bukidnon kaamulan berarti berkumpul dan pesta makan-makan. Kaamulan dilakukan ketika ada pesta perkawinan. Disebut kaamulan karena di situ orang-orang berkumpul dan makan-makan. Hanya untuk pesta perkawinan. Untuk upacara yang lain mereka punya nama lain lagi.

anak-anak suku bukidnon mewarisi tradisi

Maret, sabtu pertama. Festival ini dibuka dengan Ritus Pamukaw pada subuh hari di Capital Ground. Pagi ketika matahari masih menyinari separuh bumi Malaybalay, orang sudah ramai berkumpul di Fortrich Street yang menjadi pusat diadakaannya street dancing.  Dalam kompetisi ini suku-suku tersebut membawakan tarian yang menceritakan kehidupan sehari-hari mereka, yang meliputi keselarasan hidup dengan alam, bercocok tanam, panen, perkawinan, berburu dan perang. Dengan menggunakan pakaian adat dan iringan musik tradisional, mereka mulai menari menuju Capital Ground sekitar jam 7 pagi. Setelah semua kontestan sampai di Capital Ground, mereka akan mulai mempresentasikan tariannya secara bergiliran.

sendra tari suku bukidnon

Di Bukidnon pada khususnya, dan di Fillipine pada umumnya pertanian dan hasil panen merupakan sesuatu yang dibanggakan. Pertanian di sini memang tidak semasif dan seintensif di Indonesia. Sebagian besar tanah di Bukidnon adalah tanah yang ditumbuhi alang-alang dan tidak terawat bekas hutan yang ditebang ataupun terbakar.  Beberapa suku yang mempunyai produk pertanian unggulan sangat bangga menampilkan tradisi bercocok tanamnya dalam Festival Kaamulan ini karena sebagian yang lain dari suku-suku tersebut masih melakukan tradisi kaingin atau ladang berpindah

kolintang dan hasil panen


Advertisements

~ by roromendoet on December 23, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: